Dominasi Ducati mulai menghadapi ujian

Fabio Di Giannantonio menilai Ducati perlu bekerja lebih keras menghadapi ancaman Aprilia dan pabrikan lain yang semakin kompetitif.

Dominasi Ducati mulai menghadapi ujian
Pembalap MotoGP asal Italia dari tim Pertamina Enduro VR46 Racing, Fabio Di Giannantonio (kanan), beraksi dalam balapan Grand Prix MotoGP Australia di Sirkuit Phillip Island pada 19 Oktober 2025. Foto oleh William West/AFP/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Pembalap VR46 Ducati, Fabio Di Giannantonio, menilai bahwa Ducati bisa lebih baik dengan paket MotoGP 2025, menyusul meningkatnya persaingan dari Aprilia, Yamaha, dan Honda. Meski Ducati masih menjadi kekuatan dominan di musim ini dengan torehan 16 kemenangan grand prix, Di Giannantonio menilai tim asal Borgo Panigale itu tidak boleh terlena.

Menurutnya, keunggulan Ducati yang telah terbangun selama tiga tahun terakhir kini mulai terancam oleh rival-rival yang bekerja keras menutup celah performa. “Saya yakin para pesaing kami bekerja dengan sangat baik,” kata Di Giannantonio setelah finis kedua di Grand Prix Australia. “Kami melihat setiap pabrikan berusaha menutup kesenjangan, dan sekarang Ducati tidak lagi sejauh itu dari yang lain.”

Ducati telah menjalani musim yang luar biasa pada 2025. Dengan kombinasi GP25 dan GP24, mereka telah memenangkan 16 balapan dan hampir memastikan tiga mahkota sekaligus — gelar pembalap, konstruktor, dan tim. Namun di balik kesuksesan tersebut, tim pabrikan menghadapi tantangan yang tidak kecil.

Musim dingin 2024-2025 menjadi periode yang rumit bagi Ducati. Mesin baru GP25 mengalami sejumlah masalah teknis, terutama terkait distribusi tenaga dan stabilitas pada tikungan cepat. Dengan adanya pembekuan pengembangan mesin selama dua tahun sesuai regulasi MotoGP, Ducati tidak punya banyak waktu untuk melakukan eksperimen besar. Akhirnya, mereka memilih mengandalkan spesifikasi GP24 yang diperbarui.

Meski strategi itu terbukti efektif di tangan Marc Marquez, yang mendominasi sebagian besar musim, pembalap lain seperti Francesco Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio kesulitan mempertahankan konsistensi. Bagnaia kehilangan banyak poin akibat beberapa hasil buruk, sementara Di Giannantonio sempat kesulitan menemukan setelan yang cocok untuk GP25 di paruh pertama musim.

“Yang pasti, kami melakukan pekerjaan bagus tahun ini, tapi bisa lebih baik,” ujar Di Giannantonio. “Kadang kami cepat, tapi di beberapa trek kami kehilangan ritme. Kami tahu motor ini kuat, tapi tidak seimbang di semua kondisi.”

Sementara Ducati berjuang menjaga stabilitas performa, Aprilia menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Pabrikan asal Noale itu berhasil mempersempit jarak dengan Ducati, bahkan menjadi ancaman nyata setelah Raul Fernandez dan Marco Bezzecchi mencetak kemenangan beruntun di Phillip Island dan Mandalika.

Bahkan, beberapa analis menilai RS-GP kini menjadi motor paling seimbang di grid. Keberhasilan Aprilia menciptakan sasis dan paket aerodinamika yang efisien membuat motor mereka tangguh di lintasan cepat dan tikungan menengah — area di mana Ducati biasanya unggul.

Bezzecchi coba salip Fernandez di sprint race MotoGP Australia
Pembalap MotoGP asal Italia dari tim Aprilia Racing, Marco Bezzecchi (kanan), berusaha menyalip pembalap asal Spanyol dari tim Trackhouse Racing, Raul Fernandez, dalam sprint race MotoGP Grand Prix Australia di Sirkuit Phillip Island pada 18 Oktober 2025. Foto oleh Martin Keep/AFP/Getty Images 

“Sekarang Aprilia bahkan bisa lebih baik dari kami di beberapa sirkuit,” kata Di Giannantonio. “Mereka bekerja luar biasa, dan saya pikir itu bagus untuk MotoGP. Tapi tentu saja, ini memberi kami tekanan besar untuk meningkatkan diri.”

Selain Aprilia, Yamaha juga mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Meski performa keseluruhan masih belum seimbang, Fabio Quartararo berhasil meraih lima posisi terdepan tahun ini, sesuatu yang tidak pernah mereka capai sejak era 2021. Di sisi lain, Honda, dengan proyek RC213V baru mereka, perlahan-lahan kembali kompetitif setelah dua tahun tertinggal.

“Sekarang semua pabrikan bekerja keras. Kami tidak bisa berpuas diri,” tambah Di Giannantonio. “Dulu Ducati unggul jauh, sekarang tidak lagi.”

Sebagai bagian dari tim VR46 Ducati, Di Giannantonio menegaskan pentingnya peran kolaboratif antara tim satelit dan pabrikan. Tim yang dipimpin oleh Valentino Rossi ini telah menjadi laboratorium penting bagi Ducati untuk menguji data, mengembangkan perangkat elektronik, serta menemukan keseimbangan baru untuk GP25.

“VR46 dan Ducati adalah satu tim besar,” jelasnya. “Kami bekerja bersama untuk membuat motor semakin baik, dan hasilnya sudah mulai terlihat. Tapi kami tahu pekerjaan ini belum selesai. Kami ingin membawa Ducati ke level berikutnya.”

VR46 sendiri tampil solid sepanjang musim, dengan Franco Morbidelli dan Fabio Di Giannantonio sama-sama mencatat podium penting. Meski Morbidelli sempat terganggu oleh penalti dan cedera, Di Giannantonio mengambil peran utama dalam menjaga nama tim tetap bersaing.

Namun, pembalap asal Roma itu menekankan bahwa tantangan sebenarnya bukan hanya soal kecepatan, tetapi konsistensi dalam setiap akhir pekan. “Menjadi cepat di satu balapan tidak cukup,” katanya. “Kami harus cepat di semua trek, di segala kondisi. Itulah cara untuk menjadi juara dunia.”

Tantangan pengembangan GP26

Dalam pandangan Di Giannantonio, masa depan Ducati bergantung pada seberapa baik mereka menyiapkan motor GP26. Dengan Aprilia yang kini mampu menandingi performa mereka, pengembangan motor berikutnya akan menjadi ujian penting bagi pabrikan Italia itu.

“Saya tidak sabar untuk mengerjakan motor ’26,” ujarnya. “Saya ingin melihat apakah kami bisa meningkatkan paket kami dan menjaga jarak dari yang lain.”

Pengembangan GP26 diyakini akan fokus pada efisiensi mesin, distribusi bobot, serta sistem elektronik baru yang dirancang untuk mengurangi konsumsi ban di lintasan dengan degradasi tinggi. Ducati juga disebut akan memperkenalkan sasis karbon baru yang lebih ringan untuk meningkatkan stabilitas di tikungan cepat.

Namun, tantangan terbesar adalah mempertahankan keseimbangan antara tenaga dan kendali. Mesin Ducati dikenal sangat kuat, tetapi sering kali menimbulkan masalah dalam akselerasi keluar tikungan sempit. “Kami punya motor dengan tenaga besar,” jelas Di Giannantonio, “tapi kekuatan itu tidak berguna jika tidak bisa dikontrol dengan baik. Jadi fokus kami adalah membuat motor yang lebih halus tapi tetap cepat.”

Di Giannantonio rayakan podium MotoGP Australia dengan aksi lucu
Fabio Di Giannantonio, yang finis di posisi kedua, bersiap melempar sepatunya saat merayakan di podium setelah balapan MotoGP Grand Prix Australia di Sirkuit Phillip Island pada 19 Oktober 2025. Foto oleh Martin Keep/AFP/Getty Images

Dengan tiga putaran tersisa di kalender MotoGP 2025, Ducati masih menjadi tim yang harus dikalahkan. Namun, tekanan semakin tinggi karena Aprilia dan KTM juga terus memperbaiki performa mereka. Di Giannantonio menilai hasil di sisa musim akan menentukan arah pengembangan untuk tahun depan.

“Kami ingin mengakhiri musim ini dengan kuat,” katanya. “Kemenangan Ducati sudah banyak, tapi kami ingin menunjukkan bahwa semua pembalap bisa kompetitif. Saya ingin naik podium lagi sebelum akhir tahun.”

Meski belum mencapai level Marquez atau Bagnaia dalam hal kemenangan, Di Giannantonio menjadi salah satu pembalap paling stabil di paruh kedua musim ini. Konsistensinya memberi kontribusi besar terhadap posisi VR46 dalam klasemen tim dan memperkuat reputasinya sebagai pembalap yang matang secara teknis.

MotoGP kini sedang memasuki era baru di mana dominasi satu pabrikan tidak lagi dijamin. Dengan Aprilia, KTM, dan Yamaha yang semakin kompetitif, Ducati menghadapi tekanan yang belum pernah sebesar ini sejak 2021.

Namun, bagi Fabio Di Giannantonio, tantangan ini justru menjadi motivasi. “Inilah balapan,” ujarnya. “Semua orang ingin menang, semua bekerja keras. Kami tahu kami bisa lebih baik, dan kami akan membuktikannya.”

Posting Komentar untuk "Dominasi Ducati mulai menghadapi ujian"