Setelan motor Pecco menjadi masalah besar di Phillip Island

Pembalap tim pabrikan Ducati, Francesco "Pecco" Bagnaia frustrasi setelah jatuh di Phillip Island dan kehilangan posisi klasemen dari Marco Bezzecchi.

Setelan motor Pecco menjadi masalah besar di Phillip Island
Francesco Bagnaia dari Italia yang mengendarai Ducati (63) mengalami kecelakaan saat balapan MotoGP Australia di Sirkuit Grand Prix Phillip Island pada 19 Oktober 2025 di Phillip Island, Australia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Juara dunia dua kali Francesco "Pecco" Bagnaia mengaku frustrasi dengan penurunan performanya yang drastis sejak kemenangan gemilangnya di Grand Prix Jepang. Pembalap Ducati Lenovo Team itu bahkan menyebut kemerosotan ini “tak terlukiskan,” setelah kembali gagal finis di MotoGP Australia, usai terjatuh dari posisi ke-12 di Sirkuit Phillip Island.

Dalam empat ronde terakhir, Pecco hanya mencetak sedikit poin dan tiga kali gagal menyelesaikan balapan. Situasi ini menjadi kontras tajam dibandingkan awal musim, di mana ia masih mampu bersaing ketat dengan Pedro Acosta dan Fabio Di Giannantonio dalam perebutan gelar dunia.

Setelah tes produktif di Misano, Pecco tampil dominan di Grand Prix Jepang, menyapu bersih Sprint dan balapan utama. Namun sejak itu, performanya anjlok. Di Indonesia, ia tampil tanpa daya saing dan gagal masuk sepuluh besar. Sementara di Australia, hasilnya lebih buruk: terjatuh di lap ke-24 dari total 27 lap setelah sempat berjuang dari posisi ke-12.

Pecco menggambarkan penurunan performa ini sebagai sesuatu yang “tidak bisa diterima.” Ia menegaskan bahwa motor Ducati GP25 yang ia gunakan masih sama dengan saat dirinya menang di Motegi. Namun, setelan dan rasa berkendara yang ia rasakan tampak sepenuhnya berbeda.

“Motegi menunjukkan bahwa jika saya dalam kondisi tepat, saya bisa menang,” kata Pecco kepada Sky Italy. “Tapi apa yang terjadi setelahnya benar-benar tidak bisa dijelaskan. Secara teori, saya memulai dengan motor yang sama, tapi tiba-tiba saya tidak bisa memacu seperti seharusnya. Rasanya seperti kehilangan arah.”

Masalah utama Pecco di Phillip Island adalah kestabilan motor. Sejak sesi latihan pertama, ia terus mengeluhkan kesulitan mengendalikan bagian depan Ducati GP25 di lintasan berangin dan berkarakter cepat itu.

“Untuk pemanasan, kami mencoba sesuatu yang ternyata malah jadi bencana,” ujar Pecco. “Mustahil untuk mengendarai motor seperti itu.”

Pada sesi pemanasan Minggu pagi, tim Ducati melakukan perubahan ekstrem dalam arah setelan motor. Namun, upaya itu justru memperburuk situasi. Motor menjadi terlalu tidak stabil di tikungan cepat, dan Pecco bahkan kehilangan kepercayaan diri untuk melakukan pengereman keras.

“Untuk balapan, kami akhirnya beralih ke arah yang berlawanan,” lanjutnya. “Saya bisa memacu lebih keras, tapi tetap tidak bisa mengerem seperti yang saya mau. Setidaknya kali ini saya bisa menyalip dan mendekati pembalap di depan, meski tetap tidak ideal.”

Perubahan arah pengaturan yang dilakukan Ducati tampaknya sedikit membantu Pecco mendapatkan ritme, tetapi tidak cukup untuk memperbaiki posisinya secara signifikan. Hingga akhirnya, di lap ke-24, ia terjatuh saat berusaha menekan batas motor di Tikungan 6.

Baik Pecco maupun Ducati Corse menegaskan bahwa motor yang digunakan di Australia sama persis dengan spesifikasi pemenang di Jepang. Namun, Pecco meyakini ada sesuatu yang berubah dalam cara motor bereaksi terhadap kondisi lintasan tertentu, terutama dalam hal kelincahan dan stabilitas.

“Saya sudah mencoba segalanya,” kata Pecco. “Kami tahu motor ini bisa menang, tapi entah kenapa rasanya benar-benar berbeda sekarang. Mungkin ini soal cuaca, ban, atau bahkan arah pengaturan kami yang tidak cocok.”

Ia menjelaskan bahwa Ducati mencoba membuat motor lebih stabil dengan mengorbankan kelincahan, tetapi hasilnya justru membuat GP25 sulit dikendarai di lintasan cepat seperti Phillip Island.

“Sore ini kami mencari motor yang lebih stabil, tapi itu mengorbankan bobot dan kelincahan. Motor jadi sangat sulit dikendarai, tapi setidaknya saya bisa memasuki tikungan dengan lebih baik dibandingkan saat pemanasan,” tambahnya.

Krisis performa Pecco semakin terasa menyakitkan ketika pembalap lain yang menggunakan motor serupa justru tampil gemilang. Fabio Di Giannantonio, yang juga mengendarai Ducati GP25 bersama VR46 Racing, finis kedua di Grand Prix Australia, sementara Pecco bahkan tidak mencapai garis finis.

Perbandingan ini memunculkan pertanyaan besar di dalam tim: apakah arah pengembangan motor yang dipilih oleh Pecco dan kru-nya sudah tepat?

“Di Giannantonio bisa naik podium, jadi jelas motornya punya potensi,” ujar salah satu analis MotoGP di paddock. “Tapi Pecco tampak kehilangan rasa percaya diri pada motornya sendiri. Itu masalah yang sulit diselesaikan hanya dengan perubahan setelan.”

Situasi ini juga berdampak langsung pada klasemen. Dengan hasil nol poin di Phillip Island, Pecco kini turun ke posisi keempat, disalip oleh Marco Bezzecchi yang finis ketiga untuk Aprilia.

Selain faktor teknis, Pecco juga mengakui bahwa tekanan mental mulai mempengaruhi performanya. Setelah dua musim penuh kemenangan dan sukses mempertahankan gelar, ekspektasi tinggi tampaknya menjadi beban tersendiri.

“Kami tahu ini tahun yang sulit,” katanya jujur. “Ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai hasil yang kami capai sebelumnya. Tapi saya akan terus memberikan 100%. Di Jepang, 100% sudah cukup untuk menang. Di sini, mungkin hanya cukup untuk finis 10 besar.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Pecco masih berusaha memahami batas motor dan dirinya sendiri. Ia menolak untuk menyalahkan siapa pun, tetapi secara implisit mengakui bahwa hubungan harmonis antara pembalap dan motor saat ini sedang terganggu.

“Apa yang terjadi dari Austria dan seterusnya? Saya tidak tahu harus menjawab apa,” katanya pelan. “Mungkin saya hanya harus terus melangkah dan mencari solusi.”

Masa depan Ducati

Dengan sisa beberapa seri sebelum musim berakhir, Ducati kini berada di persimpangan jalan. Mereka memiliki motor paling cepat di grid, tetapi pembalap andalan mereka justru kehilangan arah. Pecco berharap sirkuit Sepang yang memiliki karakteristik berbeda dapat membantunya menemukan kembali kecepatan.

“Saya tidak tahu apakah perubahan ini akan membantu kami di Malaysia,” ujarnya. “Sepang adalah trek yang unik. Tapi kami akan mencoba sesuatu yang berbeda lagi untuk menemukan keseimbangan antara kestabilan dan kelincahan.”

Tim Ducati Lenovo kini harus bekerja lebih keras untuk mengembalikan kepercayaan diri pembalap utamanya. Mereka sadar bahwa tanpa performa optimal dari Pecco, peluang mempertahankan supremasi mereka sebagai tim terkuat MotoGP bisa terancam.

Penurunan performa Pecco di MotoGP Australia memperlihatkan bahwa dominasi di satu balapan tidak menjamin konsistensi di seri berikutnya. Balapan modern MotoGP kini sangat bergantung pada detail kecil seperti tekanan ban, cuaca, dan penyesuaian aerodinamika.

Pecco, yang dikenal sebagai pembalap dengan gaya halus dan presisi tinggi, tampaknya kesulitan saat motor tidak merespons sesuai ekspektasinya. Ketika kepercayaan diri itu hilang, performa pun menurun drastis.

Namun, pengalaman dan kedewasaan Pecco bisa menjadi faktor penting dalam kebangkitannya. Musim masih panjang, dan jika ia mampu memahami akar permasalahannya dengan Ducati, kebangkitan masih sangat mungkin terjadi sebelum musim 2025 berakhir.

Posting Komentar untuk "Setelan motor Pecco menjadi masalah besar di Phillip Island"