Hukuman berat di awal jadi tantangan Bezzecchi

Marco Bezzecchi tak menyangka bisa finis di podium pada MotoGP Australia di Phillip Island setelah menjalani hukuman double long lap.

Hukuman berat di awal jadi tantangan Bezzecchi
Marco Bezzecchi dari Italia yang mengendarai Aprilia Racing (72) merayakan kemenangannya setelah menyelesaikan balapan MotoGP Liqui Moly Australian Motorcycle Grand Prix di Sirkuit Grand Prix Phillip Island pada 19 Oktober 2025 di Phillip Island, Australia. Foto oleh Santanu Banik/MB Media
Anna Fadiah Novanka Laras

Pembalap pabrikan Aprilia, Marco Bezzecchi, mengakui bahwa ia tidak pernah membayangkan akan finis di podium pada MotoGP Australia, terutama setelah harus menjalani hukuman double long lap akibat insiden di seri sebelumnya. Dalam balapan penuh drama di Phillip Island, Bezzecchi menunjukkan mental juara dengan bangkit dari penalti untuk merebut posisi ketiga, di belakang Raul Fernandez dan Fabio Di Giannantonio.

Keberhasilan Bezzecchi ini menjadi salah satu momen paling menarik musim ini. Meski kehilangan peluang menang, penampilan kuatnya menegaskan bahwa Aprilia kini menjadi kekuatan serius di MotoGP 2025.

Hukuman double long lap yang dijatuhkan kepada Marco Bezzecchi berasal dari insiden di Grand Prix Indonesia, ketika ia dinilai menyebabkan tabrakan dengan juara dunia bertahan Marc Marquez. Hukuman ini membuat Bezzecchi harus menjalani dua putaran panjang di Phillip Island, tepat saat dirinya difavoritkan untuk menang setelah mendominasi Sprint Race pada hari Sabtu.

“Senang sekali. Sangat sulit, karena sejujurnya, saya tidak pernah memikirkan kemenangan itu,” kata Bezzecchi setelah balapan. “Hanya para jurnalis yang memikirkannya. Tapi saya bahkan tidak menyangka akan naik podium.”

Pembalap asal Italia itu mengakui bahwa situasinya sangat menantang. Meski sempat memimpin di tahap awal balapan, dua hukuman panjang memaksanya turun ke posisi keenam. Namun dengan kecepatan konsisten dan strategi matang, ia berhasil bangkit untuk merebut podium ketiga.

Bezzecchi menjelaskan bahwa strategi yang digunakannya saat menjalani dua long lap penalty merupakan hasil kerja sama erat dengan tim Aprilia. Ia mencoba memacu motor secepat mungkin sebelum menjalani penalti pertama, dengan tujuan agar tidak tertinggal jauh dari rombongan depan.

“Jujur, itu strategi tim saya, bukan saya,” ujarnya. “Setelah putaran panjang kedua, saya hanya berada di posisi keenam, jadi lebih baik dari yang saya harapkan.”

Namun, upaya kerasnya di awal balapan ternyata memiliki konsekuensi. Dorongan agresif sebelum penalti pertama menguras banyak energi ban belakangnya. Ia mengaku tidak bisa lagi menekan lebih keras di sisa balapan tanpa risiko kehilangan grip.

“Kalau tidak, saya pasti sudah habis di lap-lap terakhir,” katanya sambil tersenyum. “Saya sangat senang saat bertarung dengan Pedro [Acosta]. Saya pikir posisi keempat sudah cukup bagus, karena sangat sulit menyalipnya. Lalu saya melihat Alex [Marquez] mengejarnya, dan saya hanya mencoba bertahan.”

Podium ganda Bezzecchi di Phillip Island menyusul kemenangan Sprint di Indonesia dan Misano, menegaskan konsistensinya sepanjang musim. Sementara itu, rekan sesama pengguna RS-GP, Raul Fernandez, sukses memberikan kemenangan Grand Prix kedua bagi Aprilia di musim 2025, sekaligus kemenangan pertama untuk tim satelit Trackhouse.

Pencapaian ini menandakan kemajuan besar bagi Aprilia, yang kini mampu menyaingi Ducati dan KTM dalam perebutan podium. Namun Bezzecchi menolak membuat perbandingan langsung antara performa motornya dengan motor juara dunia.

“Bagi saya, mustahil membuat perbandingan,” katanya. “Saya tidak mengendarai Ducati; saya pembalap Aprilia. Tapi yang bisa saya katakan, saya merasa sangat nyaman dengan motor saya. Para teknisi melakukan pekerjaan luar biasa. Kami cukup konsisten dan selalu berkembang.”

Menurut Bezzecchi, Aprilia kini memiliki keseimbangan yang lebih baik dalam karakter motornya. Meski masih ada trek yang lebih cocok untuk Ducati atau KTM, Aprilia sudah menunjukkan kemampuan kompetitif di hampir semua sirkuit.

“Tentu ada trek di mana karakteristik motor kami lebih baik, dan ada juga trek yang lebih menguntungkan motor lain,” tambahnya. “Namun, jarak antar-motor kini lebih dekat, dan kami terus bekerja keras untuk menutup celah itu. Saya rasa kami sedang membuat langkah maju yang nyata.”

Dengan hasil di Phillip Island, Marco Bezzecchi kini naik ke posisi ketiga klasemen sementara MotoGP 2025, menggeser Pecco Bagnaia yang gagal finis setelah terjatuh dari posisi ke-12 pada lap ke-24. Posisi kelima klasemen masih dikuasai oleh Pedro Acosta, sementara Fabio Di Giannantonio kini semakin menempel di posisi keenam.

Kenaikan Bezzecchi dalam klasemen memperlihatkan betapa konsistennya performa Aprilia musim ini. Dengan dua kemenangan Sprint dan beberapa podium beruntun, ia menjadi salah satu kandidat kuat untuk bersaing dalam perebutan gelar dunia, meski masih harus mengejar selisih poin cukup besar dengan Acosta.

“Musim ini sangat panjang,” ujar Bezzecchi dengan nada optimistis. “Kami tahu ada banyak hal yang bisa terjadi di setiap balapan. Saya hanya ingin fokus satu per satu, mencoba memahami motor dengan lebih baik, dan membantu Aprilia terus berkembang.”

Musim 2025 menjadi tahun pembuktian bagi Marco Bezzecchi. Setelah transisi sulit dari VR46 Ducati ke Aprilia, banyak yang meragukan apakah ia bisa beradaptasi cepat dengan karakter RS-GP. Namun kini, Bezzecchi justru menjadi salah satu aset paling berharga bagi pabrikan asal Noale tersebut.

Dengan hasil podium di Australia, Bezzecchi memperlihatkan kemampuannya untuk tetap kompetitif meski menghadapi penalti dan tekanan. Ia membuktikan bahwa kerja keras dan ketenangan bisa menghasilkan hasil maksimal, bahkan dalam situasi sulit.

“Yang penting bagi saya adalah tetap tenang,” ucapnya. “Ketika mendapat penalti, saya tahu balapan akan panjang. Jadi saya mencoba menjaga ritme, menjaga ban, dan memanfaatkan setiap kesempatan. Ini bukan kemenangan, tapi terasa seperti itu.”

Keberhasilan Bezzecchi juga memperkuat posisi Aprilia sebagai salah satu tim paling konsisten musim ini. Dengan dua tim—pabrikan dan Trackhouse—yang sama-sama tampil kompetitif, Aprilia kini menjadi ancaman nyata bagi dominasi Ducati.

Podium penuh makna

Kisah Marco Bezzecchi di MotoGP Australia bukan hanya tentang podium, tetapi juga tentang ketekunan dan kemampuan beradaptasi. Dari penalti ganda hingga menutup balapan di posisi ketiga, ia menunjukkan kecerdasan balapan dan kerja sama tim yang kuat.

Aprilia kini semakin percaya diri menghadapi sisa musim. Dengan konsistensi yang mulai terbentuk dan pembalap seperti Bezzecchi serta Fernandez yang mampu bersaing di barisan depan, peluang untuk menantang gelar dunia semakin terbuka lebar.

Seperti yang dikatakan Bezzecchi sendiri, “Saya tidak tahu apakah kami selevel dengan Ducati, tapi saya tahu kami sedang menuju ke arah yang benar.”

Podium Phillip Island menjadi bukti nyata: Bezzecchi dan Aprilia telah tumbuh menjadi kekuatan besar di MotoGP — dan mereka belum menunjukkan puncak performanya.

Posting Komentar untuk "Hukuman berat di awal jadi tantangan Bezzecchi"