Banjir Kota Solok semakin parah dan ribuan warga terdampak

Laporan BNPB menunjukkan banjir Kota Solok meluas dan memicu risiko keselamatan yang semakin tinggi.

Banjir Kota Solok semakin parah dan ribuan warga terdampak
Banjir merendam jalan nasional Medan–Banda Aceh di Desa Peuribu, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh, pada 27 November 2025. Foto oleh Syifa Yulinnas/Antara
Anna Fadiah Novanka Laras

Banjir Kota Solok menjadi perhatian nasional setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan peningkatan signifikan jumlah warga terdampak di dua kecamatan utama kota tersebut. Dalam pekan terakhir, banjir Kota Solok tidak hanya merendam rumah penduduk tetapi juga memicu kekhawatiran tentang keselamatan warga, terutama mereka yang tinggal di area rawan aliran sungai. BNPB menegaskan bahwa banjir Kota Solok dipicu oleh peningkatan debit air di dua sungai besar serta kiriman banjir dari wilayah tetangga. Situasi ini membuat pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana sejak 26 November.

Peningkatan debit air Sungai Batang Lembang dan Batang Gawan menjadi pemicu utama banjir Kota Solok pada akhir November. BNPB mencatat bahwa kondisi ini diperburuk oleh tingginya curah hujan di daerah hulu, yang kemudian membawa volume air besar ke wilayah kota. Kiriman banjir dari daerah lain di Sumatera Barat semakin memperburuk situasi sehingga ketinggian air di sejumlah titik sulit dikendalikan.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan dalam laporan resminya bahwa dua kecamatan yang paling terdampak adalah Kecamatan Tanjung Harapan dan Kecamatan Lubuk Sikarah. Pemukiman warga di dua wilayah itu tergenang air dengan ketinggian bervariasi, tergantung kontur tanah dan jarak dari aliran sungai.

Abdul mengatakan banjir Kota Solok kali ini bukan hanya soal genangan, tetapi juga mengenai ancaman keselamatan jiwa, terutama karena air terus meningkat di beberapa titik. Warga yang tinggal dekat bantaran sungai diminta untuk segera bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi jika debit air terus naik.

Data sementara BNPB menunjukkan bahwa banjir Kota Solok telah berdampak pada 598 kepala keluarga atau sekitar 3.362 warga. Angka ini diperkirakan meningkat karena proses pendataan masih berlangsung dan beberapa lokasi baru dapat diakses setelah air mulai surut di sebagian titik. Hingga laporan terakhir, sebanyak 224 rumah dilaporkan terendam air.

Sebagian warga harus meninggalkan rumah mereka karena air dengan cepat masuk ke wilayah pemukiman. Beberapa daerah yang sebelumnya dianggap aman kini justru mengalami genangan cukup tinggi. Abdul Muhari menegaskan bahwa banjir Kota Solok berpotensi merusak struktur bangunan rumah, terutama rumah warga yang tidak memiliki fondasi kuat. Hal ini membuat evakuasi cepat menjadi penting demi keselamatan warga.

BPBD Kota Solok telah melakukan upaya pemantauan dan evakuasi sejak hari pertama banjir. Sebanyak 11 warga berhasil dievakuasi ke tempat yang lebih aman, terutama mereka yang tinggal di rumah tidak layak atau berada di wilayah dengan potensi air bah. Petugas gabungan juga memasang garis peringatan di beberapa titik rawan untuk mencegah warga kembali ke area berbahaya sebelum situasi benar-benar terkendali.

Pemerintah Kota Solok menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir sejak 26 November. Penetapan ini merupakan langkah penting untuk memastikan percepatan alokasi anggaran, pengerahan tenaga bantuan, dan mobilisasi logistik tanggap bencana. Dengan status ini, pemerintah dapat meminta dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat jika kapasitas daerah tidak memadai.

Bantuan logistik telah disalurkan ke beberapa titik pengungsian, termasuk kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan. Pemerintah daerah juga menempatkan petugas medis di lokasi-lokasi pengungsian untuk mengantisipasi munculnya penyakit pascabanjir seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan pernapasan.

Selain itu, pemerintah kota bekerja sama dengan BPBD, TNI, Polri, dan relawan setempat untuk memastikan proses evakuasi berjalan lancar. Alat berat mulai diturunkan untuk membersihkan saluran air yang tersumbat, terutama saluran-saluran kecil yang menghubungkan permukiman ke sungai.

BNPB mengingatkan warga Kota Solok agar tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas di sekitar sungai yang debit airnya masih meningkat. Abdul Muhari menjelaskan bahwa meskipun cuaca di beberapa titik mulai membaik, potensi hujan deras masih tinggi dan dapat memicu air sungai meluap kapan saja.

Warga diminta menyiapkan dokumen-dokumen penting dalam satu tempat yang mudah dibawa, termasuk identitas keluarga, surat-surat tanah, serta obat-obatan pribadi. BNPB menekankan pentingnya kesiapsiagaan mandiri di setiap keluarga karena potensi bencana dapat terjadi dengan cepat.

Selain itu, warga juga diminta memperhatikan aliran air yang naik secara tiba-tiba. Jika tanda-tanda air bah muncul, seperti suara gemuruh dari arah hulu atau peningkatan air secara drastis dalam waktu singkat, warga harus segera mencari tempat tinggi dan menghubungi petugas di lapangan.

Dampak banjir meluas ke wilayah lain di Sumatera Barat

Tidak hanya Kota Solok yang terdampak, melainkan juga sejumlah kabupaten dan kota lain di Sumatera Barat. Kombinasi banjir dan longsor dilaporkan telah mempengaruhi sekitar 12 ribu jiwa di berbagai daerah. Pemerintah daerah menyatakan bahwa setidaknya 12 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut, sementara beberapa lainnya masih hilang dan dalam pencarian.

Kerusakan infrastruktur publik seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik juga menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan. Beberapa jalan utama yang menghubungkan Kota Solok dengan daerah lain terputus karena longsor, sehingga kendaraan bantuan harus mencari jalur alternatif.

Banjir dan longsor di Sumatera Barat tahun ini disebut sebagai salah satu yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Curah hujan ekstrem, perubahan tata guna lahan, dan kondisi geografis daerah yang rentan membuat risiko bencana semakin besar.

Situasi banjir Kota Solok menunjukkan bahwa penanganan jangka pendek saja tidak cukup. Pemerintah daerah dan pusat perlu melakukan evaluasi menyeluruh terkait tata ruang, pengelolaan DAS, serta perbaikan infrastruktur pengendali banjir. Sungai Batang Lembang dan Batang Gawan perlu mendapat perhatian lebih, terutama dalam hal pengerukan, pelebaran, dan pembersihan rutin.

Selain itu, edukasi kebencanaan bagi masyarakat penting untuk ditingkatkan. Kesiapsiagaan warga dapat menyelamatkan banyak nyawa ketika bencana datang tiba-tiba. Program mitigasi berbasis komunitas juga dapat menjadi solusi agar warga memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum dan saat banjir terjadi.

Banjir Kota Solok memperlihatkan bahwa tantangan bencana hidrometeorologi di Indonesia semakin kompleks. Ribuan warga terdampak, ratusan rumah terendam, dan ancaman keselamatan terus mengintai mereka yang tinggal di daerah rawan. Dengan kondisi debit air yang masih meningkat, masyarakat dan pemerintah harus bekerja bersama dalam menghadapi situasi ini. Banjir Kota Solok bukan hanya peristiwa musiman, tetapi sinyal bahwa mitigasi jangka panjang harus segera diperkuat agar bencana serupa tidak terus berulang.

Posting Komentar untuk "Banjir Kota Solok semakin parah dan ribuan warga terdampak"