Bagnaia harap data tes Sepang bantu performa Ducati GP25

Francesco Bagnaia berharap data tes Sepang membantu memahami performa Ducati GP25, namun ia waspada terhadap risiko penurunan posisi di klasemen.

Bagnaia harap data tes Sepang bantu performa Ducati GP25
Francesco Bagnaia berbicara dalam sesi jumpa pers menjelang MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang pada 23 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Francesco Bagnaia mengakui bahwa dirinya dan tim Ducati masih berjuang keras memahami perilaku motor Ducati GP25, setelah serangkaian hasil mengecewakan membuatnya terancam kehilangan posisi di klasemen kejuaraan dunia. Juara dunia dua kali itu berharap data dari tes MotoGP Sepang pada Februari lalu dapat memberikan jawaban yang jelas mengenai arah pengembangan motor yang kini dianggap terlalu sulit diprediksi.

Namun di tengah optimisme itu, Francesco Bagnaia juga memperingatkan bahwa dirinya mungkin akan tergelincir lebih jauh di klasemen jika situasi ini tidak segera diperbaiki. Setelah empat balapan tanpa satu pun poin sejak kemenangan dominannya di Motegi, performa Bagnaia terlihat seperti bayangan dari sosok yang beberapa bulan lalu masih menjadi ancaman utama bagi Marc Marquez.

Saat ini, posisi Bagnaia di klasemen dunia MotoGP 2025 sedang berada dalam tekanan besar. Pembalap Gresini Racing, Alex Marquez, telah hampir memastikan posisi kedua di belakang kakaknya yang cedera, Marc Marquez, sementara Bagnaia tertinggal delapan poin di belakang Marco Bezzecchi dari Aprilia untuk perebutan posisi ketiga.

Bagnaia tidak berusaha menutupi realitas tersebut. “Saat ini, Aprilia bersama Bezzecchi tampil jauh lebih baik, jadi kami hanya perlu menerima kemungkinan kehilangan posisi ketiga, finis di posisi keempat atau kelima,” ujarnya kepada MotoGP.

Pernyataan itu menunjukkan perubahan besar dalam sikap Bagnaia, yang biasanya dikenal sangat percaya diri terhadap performa dan kecepatan Ducati. Namun, masalah yang terus berlanjut dengan Ducati GP25 membuat sang pembalap Italia mulai realistis terhadap peluangnya di sisa musim.

Masalah performa Ducati mulai terlihat setelah kemenangan ganda Bagnaia di Grand Prix Motegi. Sejak saat itu, ia gagal mencetak satu pun poin dalam empat seri terakhir. Perubahan besar dimulai setelah tes Misano, ketika Bagnaia dan tim mencoba beralih ke beberapa bagian dari GP24 lama untuk mencari keseimbangan. Namun, eksperimen itu tampaknya justru memperburuk situasi.

“Saya meninggalkan akhir pekan yang sulit lagi, dengan dua kecelakaan antara Sprint dan balapan,” kata Bagnaia setelah tampil di Phillip Island. “Saya tidak puas, tetapi saya tahu bahwa, setidaknya untuk balapan hari Minggu, saya telah melakukan semua yang saya bisa untuk tetap bersama grup dan memulihkan posisi.”

Di sprint Australia, Bagnaia hanya mampu finis di posisi ke-19 sebelum terjatuh dari posisi ke-12 di balapan utama. Hasil itu memperpanjang rekor buruknya tanpa poin, sekaligus memperkuat kesan bahwa GP25 belum benar-benar stabil dalam berbagai kondisi lintasan.

Meskipun kecewa, Francesco Bagnaia tetap mencoba berpikir positif menjelang Grand Prix Malaysia. Ia menaruh harapan besar pada data yang dikumpulkan tim Ducati saat tes pramusim di Sepang International Circuit pada Februari lalu.

“Ini bukan situasi yang mudah, tetapi seluruh tim dan saya melakukan segala yang kami bisa untuk sepenuhnya memahami perilaku motor dan kembali kompetitif,” ucap Bagnaia. “Selain itu, di jalur ini, kami memiliki semua data dari uji coba awal Februari untuk dapat membuat perbandingan yang nyata.”

Pada tes awal Februari, Bagnaia sempat tampil menjanjikan dengan mencatat waktu tercepat kedua di bawah Alex Marquez, sementara Marc Marquez berada di posisi kelima. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Bagnaia optimistis dapat menemukan kembali ritme terbaiknya di Sepang — sirkuit di mana ia meraih kemenangan Grand Prix pada tahun 2022 dan 2024.

Kebingungan terhadap arah pengembangan Ducati GP25 menjadi topik yang semakin banyak dibicarakan di paddock. Mesin baru Ducati memang dirancang untuk menghadirkan tenaga lebih besar dengan kontrol traksi yang lebih lembut, namun dalam praktiknya, banyak pembalap mengeluhkan kurangnya kejelasan dalam umpan balik dari roda belakang saat menikung cepat.

Ducati bahkan sempat menunda penggunaan penuh dari paket mesin barunya menjelang pembekuan pengembangan selama dua tahun ke depan. Situasi ini membuat banyak tim satelit memilih untuk tetap memakai GP24 versi pembaruan, yang terbukti lebih stabil dan konsisten.

Kondisi ini semakin menekan Bagnaia, karena para rival seperti Bezzecchi dan Raul Fernandez justru menunjukkan peningkatan performa dengan motor pabrikan lain seperti Aprilia.

Tekanan besar Ducati

Absennya Marc Marquez akibat cedera bahu membuat Ducati kehilangan pembalap utama yang biasanya menjadi tolok ukur performa GP25. Marquez, yang sudah memastikan gelar juara dunia 2025, kembali digantikan oleh pembalap uji Ducati, Michele Pirro, untuk balapan di Sepang.

Bagi Bagnaia, absennya Marquez berarti beban tambahan. Ia kini menjadi tumpuan utama Ducati untuk mempertahankan citra dominan mereka di akhir musim. Namun, ia juga menyadari tantangan fisik dan teknis yang menantinya di lintasan Malaysia.

“Akhir pekan balapan pertama sangat menantang: Phillip Island sulit, baik secara fisik maupun dalam hal balapan,” ujarnya. “Namun, di Sepang, saya merasa lebih nyaman; saya sudah pernah berkendara di sini dengan motor ini, dan kami jelas memiliki lebih banyak titik acuan. Kami terus bekerja dan mengumpulkan informasi.”

Bagnaia beraksi di MotoGP Australia bersama Ducati Lenovo
Francesco Bagnaia saat tampil dalam balapan MotoGP Australia di Sirkuit Grand Prix Phillip Island pada 19 Oktober 2025 di Phillip Island, Australia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images

Selain masalah teknis, Francesco Bagnaia kini juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Setelah gagal mempertahankan konsistensi seperti di paruh pertama musim, kepercayaan dirinya sempat goyah. Ia mengaku frustrasi melihat rival-rivalnya meningkat, sementara Ducati tampak stagnan.

Meski demikian, sang juara dunia dua kali itu berusaha tetap tenang dan fokus pada proses analisis data. “Kami tahu ini masa sulit, tapi ini juga momen penting untuk belajar. Saya percaya tim kami bisa menemukan solusi. Kadang, untuk maju, kita perlu mundur selangkah,” kata Bagnaia dengan nada reflektif.

Tim Ducati sendiri memastikan akan membawa beberapa pembaruan kecil untuk uji coba pasca-balapan di Sepang, terutama pada area aerodinamika dan manajemen tenaga mesin. Meski perubahan itu tidak besar, diharapkan dapat membantu Bagnaia mendapatkan kembali rasa percaya diri di atas GP25.

Dengan hanya tiga seri tersisa, Sepang menjadi titik krusial bagi Bagnaia untuk menentukan nasibnya di sisa musim. Sirkuit sepanjang 5,5 km ini dikenal dengan kombinasi tikungan cepat dan trek lurus panjang — area di mana kekuatan mesin Ducati biasanya bersinar.

Namun, untuk bisa memanfaatkan keunggulan tersebut, Bagnaia harus terlebih dahulu memastikan stabilitas motor dan memahami perilaku ban di suhu ekstrem Malaysia. “Kami punya kecepatan, tapi sekarang masalahnya adalah konsistensi,” katanya. “Saya yakin data tes Februari akan sangat berguna untuk memahami arah yang harus kami ambil.”

Jika mampu menemukan kembali kecepatan dan ritmenya, Bagnaia masih punya peluang untuk menutup musim di podium klasemen. Namun jika tidak, ia berisiko tergelincir ke posisi kelima — sebuah hasil yang kontras dengan ambisinya di awal tahun.

Dengan tekanan meningkat dan performa Ducati GP25 masih belum sepenuhnya stabil, Francesco Bagnaia menghadapi salah satu fase paling penting dalam kariernya. Tes dan balapan di Sepang bukan sekadar kesempatan untuk memulihkan poin, tetapi juga ujian sejauh mana ia memahami motor yang seharusnya menjadi senjatanya untuk merebut kembali kejayaan.

Posting Komentar untuk "Bagnaia harap data tes Sepang bantu performa Ducati GP25"