Massimo Rivola yakin Jorge Martin akan lebih kuat bersama Aprilia
Massimo Rivola menilai penampilan luar biasa tim di Mandalika dan Phillip Island menunjukkan potensi besar Jorge Martin yang tertunda karena cedera.
![]() |
| CEO Aprilia, Massimo Rivola, berbicara dalam wawancara menjelang balapan MotoGP di Sirkuit Pertamina Mandalika pada 5 Oktober 2025 di Lombok, Indonesia. Foto oleh Robertus Pudyanto/Getty Images |
Penampilan luar biasa Aprilia dalam dua seri terakhir MotoGP membuat bos tim, Massimo Rivola, membayangkan betapa kuatnya timnya jika Jorge Martin tidak harus menepi akibat cedera panjang. Rivola menyebut performa Aprilia di MotoGP di Mandalika dan Phillip Island sebagai salah satu yang paling konsisten dalam sejarah keikutsertaan mereka di kelas premier.
Dalam dua pekan beruntun, Aprilia tampil hampir sempurna. Marco Bezzecchi memenangi sprint race di Mandalika dan Phillip Island, sementara rekan setimnya dari Trackhouse Racing, Raul Fernandez, turut membawa Aprilia naik podium di kedua akhir pekan itu — termasuk kemenangan perdananya di MotoGP Australia. Menurut Rivola, momen ini seharusnya menjadi panggung ideal bagi Jorge Martin untuk memperlihatkan potensinya sebagai juara dunia masa depan.
Seri di Indonesia dan Australia menjadi bukti bahwa Aprilia telah berkembang menjadi kekuatan besar di MotoGP. Posisi Bezzecchi semakin penting bagi Aprilia, yang sebelumnya kerap dianggap sebagai pembalap sekunder di bawah Martin, tampil brilian dengan kemenangan sprint di dua lintasan berbeda. Di Phillip Island, ia bahkan menjadi kandidat kuat untuk meraih kemenangan grand prix penuh sebelum insiden dengan Marc Marquez memaksanya menjalani penalti double long lap.
“Dia memikirkan apa yang saya pikirkan,” ujar Rivola sambil tersenyum ketika ditanya apakah Jorge Martin juga merasa frustrasi melihat performa luar biasa Aprilia di dua balapan terakhir. Rivola mengakui bahwa dua sirkuit itu adalah tempat di mana Martin biasanya tampil sangat kuat, dan cedera yang dialaminya membuat semua rencana harus ditunda.
“Saya tahu dia sangat spesial di dua trek itu — Indonesia dan Phillip Island,” lanjut Rivola. “Kami semua berpikir begitu kami tiba di sana, dia akan tampil, mendapatkan kepercayaan diri, dan mencapai level yang sama dengan Marco. Tapi kita semua tahu apa yang terjadi di Motegi.”
Cedera Jorge Martin menjadi salah satu ironi terbesar musim ini. Pembalap Spanyol itu sempat menunjukkan performa menjanjikan dengan finis keempat di Grand Prix Hungaria, hasil terbaiknya bersama Aprilia. Namun, insiden di balapan sprint Jepang mengubah segalanya.
Di lap pembuka, Martin kehilangan kendali dan menabrak rekan setimnya, Bezzecchi, yang berujung pada retaknya tulang selangka kanan. Sejak itu, Martin melewatkan sepuluh dari sebelas putaran pembuka musim 2025. Kehilangannya bukan hanya merugikan dirinya secara pribadi, tetapi juga membuat Aprilia kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan potensi dua pembalap terkuatnya.
Menurut Rivola, Martin kini mulai memahami kerasnya dunia MotoGP. “Olahraga ini brutal,” katanya. “Anda tidak bisa menganggap remeh apa pun. Hanya karena Anda juara dan sangat berbakat, bukan berarti Anda bisa melewati setiap langkah dengan mudah. Anda tetap harus membangun performa setiap hari.”
Rivola tidak menutup mata bahwa Martin adalah salah satu talenta paling cepat yang pernah dimiliki Aprilia. Meski jadwal kepulangan pembalap Spanyol itu masih belum pasti, sang bos tim yakin Martin akan kembali lebih matang dan berbahaya di musim depan.
“Kami berharap dia bisa ikut uji coba di Sepang awal tahun depan,” ujar Rivola. “Kami ingin tiga hari pengujian yang tenang — tanpa panik, tanpa terburu-buru. Kami ingin dia menikmati kembali sensasi berkendara, memahami di mana Marco bisa begitu cepat, dan mengapa Raul juga begitu cepat sekarang.”
Bagi Rivola, kunci kebangkitan Martin ada pada proses. Ia ingin memastikan bahwa pembalapnya tidak kembali terlalu cepat dan memperburuk kondisinya. “Saya tidak ragu bahwa Jorge akan berjuang untuk kejuaraan bersama Marco Bezzecchi musim depan,” tambahnya penuh keyakinan.
Selain performa Bezzecchi, kemenangan Raul Fernandez di Phillip Island juga menjadi sorotan besar bagi Aprilia. Pembalap Trackhouse itu mengendalikan balapan dengan tenang selama 27 putaran untuk meraih kemenangan perdananya di kelas utama. Hasil tersebut menegaskan kedalaman potensi yang dimiliki Aprilia, bahkan di luar tim pabrikan.
Rivola menganggap kemenangan Fernandez sebagai pembuktian bahwa proyek Aprilia kini berada di jalur yang benar. “Kami bekerja keras untuk membangun motor terbaik di grid. Kami tahu ada banyak kompetisi, tetapi performa Raul membuktikan bahwa paket Aprilia semakin kuat,” jelasnya.
Kemenangan ini sekaligus memberi tekanan tambahan pada rival-rival mereka seperti Ducati dan KTM, yang mulai merasa ancaman nyata dari pabrikan asal Noale itu.
Aprilia semakin dekat dengan dominasi Ducati
Musim 2025 memperlihatkan bagaimana Aprilia perlahan menutup jarak dengan Ducati. Jika musim sebelumnya mereka hanya sesekali tampil di podium, kini Aprilia nyaris selalu berada di barisan depan di setiap sesi latihan dan balapan.
Rivola menilai peningkatan ini sebagai buah dari kerja keras tim teknis yang terus mengembangkan RS-GP, motor andalan Aprilia. “Kami tidak pernah berhenti belajar,” ujarnya. “Motor ini sudah sangat kompetitif, tapi kami masih menemukan ruang untuk berkembang. Yang terpenting adalah menjaga arah yang benar.”
Meski demikian, Rivola menyadari bahwa menjaga konsistensi di MotoGP adalah tantangan tersendiri. Ia menekankan pentingnya membangun kedalaman skuad agar tidak terlalu bergantung pada satu pembalap. “Dengan cedera Jorge, kami belajar banyak tentang bagaimana tim harus beradaptasi. Raul dan Marco menunjukkan bahwa kami memiliki fondasi kuat untuk masa depan.”
Rivola optimistis bahwa MotoGP 2026 akan menjadi tahun di mana Aprilia mampu menantang langsung Ducati dalam perebutan gelar juara dunia. Ia menilai Martin dan Bezzecchi memiliki gaya balap yang saling melengkapi — Martin dengan agresi khasnya, dan Bezzecchi dengan konsistensinya.
“Bayangkan saja jika keduanya bisa tampil di level terbaik mereka, itu akan menjadi mimpi bagi kami,” ucap Rivola. “Kami memiliki motor yang kompetitif, struktur tim yang solid, dan sekarang kami hanya butuh sedikit keberuntungan agar semuanya berjalan lancar.”
Rivola menutup dengan pesan penuh harapan. “Kami ingin Aprilia tidak hanya menjadi pesaing, tapi pemimpin. Martin dan Marco adalah bagian penting dari rencana itu. Kami tahu dengan kerja keras dan dedikasi, kami bisa melakukannya.”
Dengan performa Aprilia yang terus meningkat dan Massimo Rivola yang semakin percaya diri terhadap potensi Jorge Martin, masa depan tim asal Italia itu tampak menjanjikan. Jika Martin kembali dalam kondisi terbaik dan menggabungkan kekuatannya dengan Bezzecchi, Aprilia berpotensi menulis babak baru dalam sejarah MotoGP — babak yang mungkin dimulai pada musim 2026.


Posting Komentar untuk "Massimo Rivola yakin Jorge Martin akan lebih kuat bersama Aprilia"