Aprilia akui penurunan performa RS-GP di Sepang

Setelah dominan di Mandalika dan Phillip Island, Aprilia menghadapi kenyataan sulit di Sepang dengan performa RS-GP yang tak sesuai harapan.

Aprilia akui penurunan performa RS-GP di Sepang
Garasi tim pabrikan Aprilia saat balapan MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang pada 26 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Aprilia RS-GP di Sepang menjadi momen refleksi bagi pabrikan asal Italia itu setelah mereka meninggalkan Sirkuit Sepang dengan hasil yang jauh dari ekspektasi. Setelah menorehkan kemenangan beruntun di Mandalika dan Phillip Island, Aprilia tiba di Malaysia dengan kepercayaan diri tinggi bahwa mereka mampu mempertahankan momentum. Namun kenyataan di lintasan justru berbeda. Dengan hanya sepuluh poin konstruktor yang berhasil dikumpulkan sepanjang akhir pekan, Aprilia mencatatkan hasil terburuk di antara seluruh pabrikan yang tampil di Sepang.

Hasil tersebut menjadi pukulan besar bagi tim yang sebelumnya tampak berada di jalur untuk menantang gelar MotoGP 2026. Kecepatan RS-GP yang sempat mendominasi di dua seri sebelumnya tampak hilang di Malaysia, seolah motor itu tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lintasan dan suhu yang lebih ekstrem.

Sebelum akhir pekan dimulai, para penggemar dan pengamat MotoGP menaruh harapan besar pada Aprilia RS-GP di Sepang. Tim pabrikan asal Noale itu tiba di Sepang setelah memenangkan tiga dari empat balapan terakhir — dua di antaranya diraih dengan dominasi yang mengesankan oleh Marco Bezzecchi. Namun performa luar biasa itu tidak berlanjut di Malaysia.

Marco Bezzecchi, pembalap utama Aprilia, hanya mampu finis keenam di Sprint dan kesebelas di balapan utama. Hasil tersebut mengecewakan, terutama mengingat performa stabil yang ia tunjukkan di Australia hanya sepekan sebelumnya.

“Kami tahu datang ke sini akan sedikit lebih sulit dibandingkan dengan Phillip Island,” ujar Bezzecchi. “Saya merasa jauh lebih baik dibandingkan saat tes sebelumnya, jadi saya cukup puas. Tapi tentu saja, kami masih harus banyak bekerja.”

Bezzecchi menekankan bahwa hasil buruk ini bukan sepenuhnya kegagalan, melainkan bagian dari proses pengembangan RS-GP yang terus berlanjut. Ia menyebut bahwa tim telah menemukan beberapa area penting untuk ditingkatkan, termasuk dalam hal penyaluran tenaga dan karakteristik grip pada lintasan panas seperti Sepang.

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi Aprilia RS-GP di Sepang adalah kesulitan dalam menemukan keseimbangan traksi dan stabilitas ban. Bezzecchi mengaku berjuang keras untuk menemukan cara terbaik agar tenaga besar RS-GP dapat disalurkan ke permukaan aspal dengan efisien.

“Saya kesulitan untuk menemukan cara menyalurkan semua tenaga ke tanah,” katanya. “Itu sebabnya saya tidak bisa langsung masuk ke Kualifikasi 2 dan harus memulai balapan dari posisi ke-14.”

Selain itu, keputusan tim untuk menggunakan ban depan medium alih-alih lunak di Grand Prix menjadi kesalahan strategis yang mengorbankan potensi Bezzecchi untuk meraih posisi lebih baik.

“Kami tidak memilih ban depan yang tepat,” ujar pembalap asal Italia itu. “Saya pikir dengan ban lunak, saya bisa berada di level yang mirip dengan Bastianini atau Di Giannantonio. Tidak untuk menang, karena itu tidak realistis hari ini, tapi setidaknya bisa bersaing di depan.”

Meski secara keseluruhan penampilan Aprilia di Malaysia mengecewakan, tim masih memiliki secercah harapan melalui penampilan solid pendatang baru, Ai Ogura. Pembalap Jepang yang membela tim satelit Trackhouse itu tampil impresif dengan RS-GP dan berhasil finis di posisi kesepuluh, menjadi pembalap Aprilia dengan hasil terbaik akhir pekan itu.

Ogura, yang menggunakan ban depan lunak berbeda dengan Bezzecchi, menunjukkan pendekatan strategis yang lebih adaptif terhadap karakter lintasan Sepang. Hasil ini menjadi bukti bahwa RS-GP masih memiliki potensi, meskipun belum dapat dimaksimalkan oleh tim pabrikan.

Raul Fernandez dan Ai Ogura di Sepang
Raul Fernandez dan Ai Ogura dalam balapan MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang pada 26 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images

Performa Ogura juga menjadi sinyal positif bagi masa depan Aprilia. Dengan data yang dikumpulkan dari pembalap rookie tersebut, tim kini memiliki referensi tambahan untuk pengembangan motor di sisa musim dan uji coba pra-musim 2026.

Performa buruk Aprilia RS-GP di Sepang juga menyoroti kelemahan dalam hal pengambilan keputusan teknis dan taktis. Setelah dua akhir pekan yang sukses di lintasan dengan grip tinggi, tim tampak kesulitan menyesuaikan pengaturan motor untuk karakteristik Sepang yang menuntut keseimbangan antara kecepatan dan manajemen ban.

Hanya sepuluh poin konstruktor yang berhasil dikumpulkan menjadi catatan terendah bagi Aprilia musim ini. Sebagai perbandingan, mereka meraih 37 poin di Phillip Island, sebuah penurunan yang sangat signifikan.

Bezzecchi sendiri menyebut bahwa meski kecewa, ia masih melihat sisi positif. “Hasil ini memberi kami arah yang jelas untuk dikerjakan,” ujarnya. “Kami tahu area mana yang harus diperbaiki. Sekarang, kami hanya perlu waktu dan dukungan teknis yang tepat untuk melangkah lebih jauh.”

Kegagalan Aprilia di Malaysia juga berdampak langsung terhadap posisi mereka dalam klasemen konstruktor MotoGP 2025. Sebelum balapan di Sepang, Aprilia unggul 30 poin dari KTM dalam perebutan posisi runner-up di belakang Ducati. Namun hasil buruk akhir pekan ini membuat keunggulan tersebut terpangkas drastis.

Dengan hanya dua seri tersisa, yakni Portimao dan Valencia, Aprilia kini berada dalam tekanan besar untuk mempertahankan posisi kedua. Meskipun peluang mereka untuk menantang Ducati sudah hampir tertutup, mempertahankan posisi runner-up menjadi target realistis yang masih harus diperjuangkan.

Sementara itu, Bezzecchi masih bertahan di posisi ketiga klasemen pembalap, diuntungkan oleh kegagalan Francesco Bagnaia yang mundur dari balapan akibat ban bocor. Namun tekanan dari pembalap lain seperti Pedro Acosta dan Fabio Di Giannantonio terus meningkat.

Aprilia butuh arah baru

Hasil Aprilia RS-GP di Sepang memperlihatkan bahwa meski motor ini kuat di kondisi tertentu, masih banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk membuatnya kompetitif di semua sirkuit. Tim perlu menemukan keseimbangan antara tenaga mesin dan kestabilan saat menikung cepat, dua area yang menjadi kekuatan utama Ducati dan KTM.

Selain itu, performa yang fluktuatif menunjukkan bahwa RS-GP masih belum cukup fleksibel dalam menyesuaikan diri terhadap variasi kondisi lintasan. Jika Aprilia ingin benar-benar menjadi penantang gelar dunia pada musim 2026, mereka harus mengembangkan motor yang dapat tampil konsisten di berbagai karakter trek.

Marco Bezzecchi tampak optimistis meski realistis. “Saya tahu kami punya potensi besar,” katanya. “Kami sudah membuat langkah besar tahun ini, tapi setiap langkah menuju kemenangan selalu disertai dengan kesulitan. Kami akan terus bekerja keras dan belajar dari setiap akhir pekan.”

Marco Bezzecchi di Sepang
Marco Bezzecchi beraksi selama MotoGP Sprint di Grand Prix Petronas Malaysia pada 25 Oktober 2025 yang diadakan di Sirkuit Internasional Sepang di Sepang, Malaysia. Foto oleh Hazrin Yeob Men Shah/Icon Sportswire

MotoGP Malaysia menjadi titik balik bagi Aprilia. Dari euforia kemenangan di dua seri sebelumnya, kini mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa jalan menuju puncak masih panjang. Kegagalan di Sepang menjadi pelajaran berharga — bahwa kekuatan sejati sebuah tim tidak hanya terlihat saat menang, tetapi juga dalam cara mereka bangkit dari kekalahan.

Aprilia RS-GP di Sepang mungkin bukan akhir yang diharapkan, tetapi justru menjadi awal dari refleksi mendalam yang dapat membawa mereka lebih kuat di masa depan. Dengan semangat kompetitif yang tetap menyala dan arah pengembangan yang lebih jelas, Aprilia kini menatap dua seri terakhir dengan satu tujuan: membuktikan bahwa Sepang hanyalah kemunduran sementara, bukan tanda kemerosotan permanen.

Posting Komentar untuk "Aprilia akui penurunan performa RS-GP di Sepang"