Masalah cengkeraman membatasi potensi Aprilia
Pembalap Aprilia, Marco Bezzecchi, kesulitan menemukan cengkeraman di Sepang dan menyalahkan performa ban baru tidak bekerja seperti yang diharapkan.
![]() |
| Marco Bezzecchi di grid sebelum dimulainya MotoGP Sprint pada 25 Oktober 2025 di Sirkuit Internasional Sepang di Sepang, Malaysia. Foto oleh Hazrin Yeob Men Shah/Icon Sportswire |
Pembalap Aprilia, Marco Bezzecchi, mengaku frustrasi setelah mengalami akhir pekan yang sulit di MotoGP Malaysia, di mana ia merasa setiap kali menggunakan ban baru, “rasanya ban tersebut tidak ada.” Bezzecchi, yang datang ke Sepang International Circuit sebagai salah satu kandidat kuat untuk menantang dominasi Ducati, harus menghadapi realitas pahit: motor Aprilia-nya gagal memberikan cengkeraman yang memadai sepanjang akhir pekan.
Bagi Bezzecchi, yang dalam beberapa putaran terakhir menunjukkan performa kompetitif di Phillip Island dan Mandalika, balapan di Malaysia menjadi momen kontras yang menyoroti kelemahan teknis Aprilia. Ketika pembalap lain mampu memanfaatkan ban baru untuk menambah kecepatan, Bezzecchi justru merasa tidak mendapatkan perbedaan performa yang signifikan.
Sejak sesi latihan Jumat, Bezzecchi sudah merasakan tanda-tanda kesulitan. Ia gagal langsung menembus Q2 — sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Grand Prix Aragon awal Juni. Hasil kualifikasi di posisi ke-14 menjadi awal yang berat, terutama bagi pembalap yang biasanya mampu bersaing di barisan depan dalam satu lap cepat.
“Sangat disayangkan saya melewatkan putaran kualifikasi,” kata Bezzecchi kepada Sky Italy setelah sesi kualifikasi. “Tapi saya tidak mengeluh. Saya tahu kami akan kesulitan di sini, dan kami sedang mengerjakan banyak hal yang akan berguna di masa depan.”
Bezzecchi menambahkan bahwa setiap kali ia memasang ban baru, sensasinya sama sekali tidak berbeda dengan ban lama. “Setiap kali saya memasang ban baru, rasanya seperti ban itu tidak ada,” ujarnya. “Saya tidak bisa menemukan cengkeraman ekstra yang dimiliki semua orang di awal balapan.”
Dalam Sprint Race hari Sabtu, Bezzecchi mencoba memulihkan keadaan. Memulai dari posisi ke-14, ia berjuang keras dan berhasil menembus sepuluh besar sebelum akhirnya finis ketujuh di garis finis. Setelah penalti waktu untuk Fermin Aldeguer, Bezzecchi naik satu tempat ke posisi keenam — hasil yang dianggapnya “tidak terlalu buruk” mengingat kondisi yang ia hadapi.
“Yah, bukan yang terbaik, tetapi banyak peningkatan, terutama dalam sprint,” kata Bezzecchi kepada media Inggris. “Jadi, akhirnya, hampir puas. Tentu saja, setelah dari Phillip Island dan Mandalika di mana kami cukup cepat, di sini kami sedikit lebih kesulitan.”
Komentar itu menunjukkan keseimbangan antara kekecewaan dan realisme. Bezzecchi tahu bahwa Sepang bukanlah sirkuit yang bersahabat untuk Aprilia, terutama dengan suhu tinggi dan karakter tikungan yang menuntut traksi kuat dari ban belakang.
Masalah utama Bezzecchi sepanjang akhir pekan adalah kurangnya cengkeraman. Ketika ban baru seharusnya memberi keunggulan signifikan — terutama di lap-lap awal sprint — Bezzecchi justru merasakan performa yang statis. Kondisi ini membuatnya sulit menandingi pembalap Ducati yang terkenal memiliki traksi luar biasa di area keluar tikungan.
“Sepanjang akhir pekan, saya tidak bisa merasakan perbedaan antara ban lama dan baru,” katanya. “Semua orang mendapat tambahan cengkeraman, tapi motor saya tetap sama. Rasanya seperti ban itu tidak ada.”
Komentar tersebut mencerminkan masalah yang lebih luas bagi Aprilia pada paruh kedua musim ini. Setelah awal tahun yang menjanjikan, pabrikan asal Noale itu tampak kesulitan menjaga konsistensi performa di trek dengan suhu ekstrem.
Kegagalan Bezzecchi menembus Q2 di Sepang menyoroti tantangan besar yang dihadapi Aprilia Racing. Meski motor RS-GP memiliki potensi besar, masalah adaptasi terhadap karakteristik ban dan suhu lintasan kerap menjadi titik lemah mereka.
Para insinyur Aprilia dilaporkan terus bekerja keras memahami perilaku ban Michelin pada kondisi panas seperti di Malaysia. Dalam beberapa kasus, tim mengalami kesulitan memanfaatkan keunggulan aerodinamika RS-GP karena ban cepat kehilangan traksi saat suhu permukaan meningkat.
Sementara Ducati, dengan sistem traksi yang lebih efisien dan mesin yang lebih halus di tikungan lambat, tampak mampu menyesuaikan diri dengan lebih baik. Hal ini membuat Bezzecchi dan rekan-rekan Aprilia-nya harus bekerja dua kali lebih keras untuk sekadar mendekati kecepatan rival-rival mereka.
Meski kecewa dengan hasil sprint, Bezzecchi tetap menunjukkan semangat juang tinggi menjelang balapan utama MotoGP Malaysia pada Minggu. Ia mengaku telah memahami beberapa aspek teknis yang bisa ditingkatkan dan berencana menggunakan data dari sprint untuk memaksimalkan performa motor.
“Saya pikir saya bisa tampil sedikit lebih baik di balapan utama,” katanya. “Kami sudah memahami beberapa hal penting, terutama tentang manajemen ban dan gaya berkendara di lap awal.”
Bezzecchi juga menyoroti pentingnya strategi bertahan di awal balapan. Menurutnya, menahan ritme agar ban tidak terlalu cepat panas bisa menjadi kunci bertahan di 10 besar. “Yang paling penting adalah tidak memaksa di lima lap pertama,” ujarnya. “Jika bisa menjaga suhu ban tetap stabil, saya yakin kami bisa memperbaiki posisi.”
Dengan kemenangan Francesco Bagnaia dalam sprint 10 lap di Sepang, perburuan posisi ketiga di klasemen sementara menjadi semakin sengit. Poin Bagnaia kini sama dengan Bezzecchi, menambah tekanan bagi pembalap Aprilia itu di sisa tiga seri terakhir musim 2025.
Bezzecchi menyadari bahwa konsistensi akan menjadi faktor penentu. “Kami harus tetap tenang,” katanya. “Saya tahu kami punya potensi besar, tetapi ada banyak hal yang harus kami perbaiki. Musim ini belum selesai.”
Posisi ketiga di klasemen bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga soal status dalam hierarki tim dan peluang kontrak untuk musim depan. Bezzecchi masih dipandang sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di grid, tetapi hasil di akhir musim akan berperan besar dalam menentukan arah kariernya.
Kelemahan teknis Aprilia
Kegagalan Marco Bezzecchi di Malaysia memperlihatkan kembali persoalan klasik Aprilia: inkonsistensi performa ban dan traksi. Sementara pabrikan lain seperti Ducati dan KTM berhasil menemukan keseimbangan antara power dan grip, Aprilia masih berjuang menyesuaikan karakter mesin V4 mereka dengan perilaku ban Michelin.
Masalah ini tampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga filosofis. Aprilia dikenal dengan pendekatan aerodinamika agresif, namun gaya itu seringkali mengorbankan traksi roda belakang, terutama di lintasan dengan cengkeraman rendah seperti Sepang.
Bezzecchi, yang dikenal halus dalam mengelola ban, sebenarnya cocok dengan karakter RS-GP. Namun tanpa dukungan teknis yang memadai dari sisi ban dan elektronik, ia sulit memanfaatkan potensi penuh motor.
Meskipun frustrasi di Sepang, Bezzecchi menegaskan bahwa akhir pekan di Malaysia memberikan pelajaran penting. Ia yakin pengalaman ini akan membantu Aprilia mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk musim 2026.
“Kami telah memahami banyak hal yang akan membantu kami di masa depan,” kata Bezzecchi. “Jadi sprint hari ini tidak terlalu buruk. Kami hanya perlu waktu dan arah pengembangan yang tepat.”
Dengan tim teknis Aprilia yang semakin fokus pada pengembangan ban dan kontrol traksi, serta dukungan dari pembalap-pembalap seperti Bezzecchi yang mampu memberikan umpan balik detail, masa depan tampak lebih cerah bagi pabrikan asal Italia itu.
Pada akhirnya, Marco Bezzecchi frustrasi di MotoGP Malaysia bukan sekadar cerita tentang hasil buruk di satu akhir pekan, tetapi refleksi dari tantangan teknis yang lebih besar di dalam tubuh Aprilia.
Di tengah frustrasi karena ban baru yang “tidak terasa”, Bezzecchi tetap menunjukkan profesionalisme dan tekad untuk membawa Aprilia keluar dari masalah konsistensi — sebuah langkah penting menuju kejayaan yang lebih stabil di masa depan MotoGP.

Posting Komentar untuk "Masalah cengkeraman membatasi potensi Aprilia"