Rossi nilai Bagnaia kesulitan bersama Marquez di Ducati

Valentino Rossi menilai tekanan dari Marc Marquez memengaruhi performa Francesco "Pecco" Bagnaia.

Rossi nilai Bagnaia kesulitan bersama Marquez di Ducati
Valentino Rossi terlihat menghadiri Grand Prix San Marino di Sirkuit Misano World Circuit Marco Simoncelli pada 13 September 2025. Foto oleh Fabrizio Carabelli/SOPA Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Legenda MotoGP Valentino Rossi mengomentari penurunan performa Francesco "Pecco" Bagnaia di musim 2025 dengan menyebut bahwa sang juara dunia dua kali itu mengalami “sedikit kesulitan bersama rekan setimnya yang cepat seperti Marc Marquez”. Menurut Rossi, faktor internal dalam tim Ducati telah menjadi tekanan tersendiri bagi Bagnaia yang sebelumnya tampil dominan dalam dua musim terakhir.

Rossi, yang kini menjadi mentor bagi Bagnaia di akademi VR46, mengakui bahwa penurunan performa ini sulit dipahami. Namun, ia percaya bahwa kombinasi antara tekanan kompetitif dan perubahan teknis pada motor Ducati GP25 menjadi alasan utama di balik hasil mengecewakan Bagnaia.

“Pecco adalah juara dunia tiga kali, termasuk satu di Moto2 bersama tim kami,” ujar Rossi dalam wawancara dengan Sky News Italia. “Dia sangat cepat, tapi sayangnya tahun ini dia agak kesulitan. Selama tiga tahun terakhir, dia selalu berjuang untuk kejuaraan dunia. Sekarang, dengan rekan setim seperti Marquez, semuanya menjadi lebih rumit.”

Setelah tampil konsisten di awal musim dan meraih kemenangan di beberapa seri awal, performa Bagnaia menurun tajam sejak paruh kedua musim. Dari 19 ronde pertama, ia hanya mampu meraih dua kemenangan dan gagal menjadi ancaman serius bagi Marc Marquez dalam perebutan gelar juara dunia.

Penurunan ini menjadi lebih jelas setelah jeda musim panas, di mana Bagnaia hanya sesekali menunjukkan performa kompetitif, seperti saat Grand Prix Jepang di Motegi. Di sana, ia berhasil memenangkan sprint dan balapan utama, memberi kesan seolah ia telah menemukan kembali ritme terbaiknya. Namun, kebangkitan itu terbukti hanya sementara.

Dugaan awal menyebutkan bahwa Ducati mencoba kembali ke beberapa komponen motor versi 2024 pada uji coba di Misano. Komponen seperti ride-height device atau alat pengatur ketinggian pengendara sempat diujikan untuk meningkatkan stabilitas motor. Akan tetapi, strategi itu tidak memberikan hasil signifikan.

Bagnaia kembali kesulitan di Grand Prix Australia dan Indonesia, di mana ia gagal bersaing di kelompok depan. Kondisi ini membuat banyak pihak mempertanyakan apakah tekanan dari kehadiran Marc Marquez di tim utama Ducati menjadi salah satu penyebab utama penurunan performa tersebut.

Valentino Rossi, sebagai figur yang sangat mengenal dinamika psikologis pembalap papan atas, menilai bahwa kehadiran Marc Marquez bisa menjadi faktor tekanan yang kuat bagi Bagnaia.

“Dia mulai sedikit kesulitan bersama rekan setim yang cepat seperti Marquez,” kata Rossi. “Kami sedang mengalami masa sulit, dan kami berusaha membantunya 100%, mencoba mencari cara untuk menyelesaikan situasi ini.”

Menurut Rossi, masalah utama bukan hanya terletak pada motor Ducati, tetapi juga pada keseimbangan mental Bagnaia menghadapi persaingan internal yang sangat ketat. Marquez dikenal sebagai pembalap dengan etos kerja ekstrem, yang terus menekan batas kemampuan dirinya dan orang di sekitarnya.

Rossi menambahkan bahwa timnya di VR46 sedang berupaya membantu Bagnaia memahami apa yang sebenarnya menghambat performanya. “Kami masih belum mengerti apa yang terjadi, tapi kami yakin Pecco akan kembali ke depan dan berjuang untuk menang lagi,” tegasnya.

Kedatangan Marc Marquez ke Ducati pada awal musim 2025 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam MotoGP modern. Banyak pihak menilai keputusan Ducati untuk menempatkan dua juara dunia dalam satu garasi adalah langkah berani, namun berisiko tinggi.

Hubungan antara keduanya semula dipenuhi spekulasi. Banyak pengamat memprediksi bahwa tensi internal akan meningkat, mengingat keduanya memiliki gaya balap yang sangat berbeda. Namun, hingga kini, baik Marquez maupun Bagnaia selalu menampik adanya ketegangan serius di dalam tim.

“Awalnya, saya agak khawatir,” kata Bagnaia dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport. “Dia selalu mengatakan bahwa dia bisa menaruh tongkat di roda bahkan untuk rekan setimnya. Tapi ternyata tidak. Mengalaminya langsung sebagai rekan setim justru sangat positif.”

Pernyataan Bagnaia ini menunjukkan bahwa hubungan profesional antara kedua pembalap masih berjalan baik. Namun, tekanan kompetitif di lintasan tetap menjadi hal yang sulit dihindari.

Direktur olahraga Ducati, Mauro Grassilli, juga ikut menanggapi isu yang beredar. Ia menegaskan bahwa hubungan antara kedua pembalap berjalan sehat dan profesional, serta membantah adanya masalah internal yang memengaruhi performa Bagnaia.

“Pecco senang memiliki Marc sebagai rekan setimnya,” ujar Grassilli dalam wawancara dengan Crash di Misano. “Jadi, Pecco benar-benar bagian dari strategi kami, seperti halnya Marc. Target kami adalah menempatkan kedua pembalap di posisi yang tepat, dan kami akan membantu Pecco pulih.”

Grassilli juga menepis tudingan bahwa Bagnaia mengalami gangguan mental akibat tekanan dari Marquez. Menurutnya, penurunan performa yang dialami Bagnaia lebih disebabkan oleh faktor teknis ketimbang psikologis.

Namun, sejumlah analis MotoGP berpendapat bahwa dinamika internal antara dua pembalap besar dalam satu tim selalu berdampak langsung pada hasil di lintasan. Dalam sejarah MotoGP, rivalitas internal semacam ini sudah sering kali memengaruhi hasil kejuaraan, seperti antara Rossi dan Lorenzo di Yamaha, atau antara Dovizioso dan Iannone di Ducati.

Salah satu isu yang turut memperumit situasi Bagnaia adalah kesulitan beradaptasi dengan Ducati GP25, motor terbaru yang dikembangkan dengan konsep aerodinamika baru dan sistem elektronik yang lebih agresif.

Beberapa pembalap Ducati lain, termasuk Jorge Martin dan Enea Bastianini, juga sempat menyatakan bahwa motor 2025 terasa lebih sulit dikendalikan saat keluar tikungan cepat. Ducati memang mencoba mencari keseimbangan antara kecepatan di lintasan lurus dan stabilitas di tikungan, namun hasilnya belum sepenuhnya memuaskan.

Bagnaia sendiri mengakui bahwa GP25 membutuhkan gaya balap berbeda dibanding versi sebelumnya. “Saya kurang nyaman dengan motor baru ini,” ujarnya beberapa waktu lalu. “Kami terus berusaha menyesuaikan setup agar saya bisa menemukan sensasi yang sama seperti tahun lalu.”

Tekanan besar akhir musim

Marquez dan Bagnaia bersiap di garasi jelang MotoGP Jepang di Motegi
Marc Marquez asal Spanyol yang mengendarai Ducati Lenovo (93) dan Francesco Bagnaia asal Italia yang juga mengendarai Ducati Lenovo (63) berjalan menuju garasi sebelum sesi pemanasan dalam balapan MotoGP Jepang di Sirkuit Twin Ring Motegi pada 28 September 2025 di Motegi, Jepang. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images

Dengan hanya tersisa tiga seri sebelum akhir musim, Bagnaia kini tertinggal cukup jauh dari Marc Marquez dalam klasemen kejuaraan dunia. Meskipun peluang matematis untuk mempertahankan gelar masih terbuka, performanya yang inkonsisten membuat misi itu tampak semakin sulit.

Di sisi lain, tekanan dari media dan publik Italia juga meningkat. Banyak penggemar Ducati menaruh harapan besar kepada Bagnaia untuk mengulang kejayaan dua musim sebelumnya. Sementara itu, keberhasilan Marquez menyesuaikan diri dengan cepat di tim baru justru memperkuat persepsi bahwa Bagnaia belum mampu beradaptasi di bawah tekanan kompetitif internal.

Namun, seperti yang disampaikan Valentino Rossi, harapan masih ada. “Kami yakin Pecco akan kembali ke depan,” tegasnya. “Dia pembalap yang luar biasa, hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru.”

Pertanyaan besar kini muncul: apakah Bagnaia akan tetap menjadi pusat proyek Ducati untuk musim 2026? Dengan Marc Marquez yang tampil superior, banyak analis memprediksi bahwa arah pengembangan motor Ducati ke depan akan lebih mengakomodasi gaya balap Marquez yang agresif.

Jika hal itu terjadi, Bagnaia mungkin perlu menyesuaikan strategi dan gaya balapnya untuk bertahan dalam sistem yang kini tampak berporos pada performa rekan setimnya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Bagnaia adalah pembalap yang mampu bangkit dari tekanan.

Rossi, yang menjadi salah satu sosok paling berpengaruh dalam kariernya, menegaskan hal yang sama. “Pecco sudah menunjukkan bahwa dia punya mental juara,” ujarnya. “Saya yakin, cepat atau lambat, dia akan menemukan kembali kecepatan dan kepercayaan dirinya.”

Posting Komentar untuk "Rossi nilai Bagnaia kesulitan bersama Marquez di Ducati"