Phillip Island membuka mata KTM terhadap masalah ban

Pedro Acosta anggap MotoGP Australia jadi titik balik KTM untuk memahami dan mengatasi masalah keausan ban pada motor RC16.

Phillip Island membuka mata KTM terhadap masalah ban
Pedro Acosta asal Spanyol dari tim Red Bull KTM Factory Racing menghadiri sesi media pra-acara Grand Prix Petronas Malaysia pada 23 Oktober 2025 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia. Foto oleh Hazrin Yeob Men Shah/Icon Sportswire
Anna Fadiah Novanka Laras

Pedro Acosta menyebut bahwa akhir pekan di Australia merupakan momen paling penting selama rangkaian balapan flyaway musim ini. Pembalap muda asal Spanyol itu merasa Grand Prix Australia menjadi “akhir pekan terbaiknya secara keseluruhan”, bukan karena hasil balapan semata, tetapi karena pengalaman tersebut membantu KTM menyadari betapa seriusnya masalah keausan ban yang mereka hadapi di MotoGP 2025.

Dalam wawancara usai balapan di Phillip Island, Pedro Acosta mengaku frustrasi karena potensi sebenarnya dari motor KTM RC16 belum sepenuhnya terlihat. Meskipun tampil cepat dan kompetitif di sebagian besar akhir pekan, keausan ban yang terlalu tinggi membuatnya kehilangan daya saing di lap-lap terakhir, sehingga gagal bersaing memperebutkan podium.

“Phillip Island seharusnya menjadi balapan yang luar biasa untuk kami,” ujar Acosta. “Namun, dengan keausan ban yang kami alami, saya hanya bisa membalap sekitar 70 persen dari kemampuan saya. Rasanya sangat menjengkelkan ketika tahu Anda bisa lebih cepat, tapi tidak bisa berbuat banyak.”

Masalah keausan ban bukanlah hal baru bagi KTM. Sejak awal musim MotoGP 2025, RC16 sering kali kesulitan mempertahankan performa ban belakang dalam balapan jarak panjang. Namun, balapan di Phillip Island menjadi puncak dari tantangan tersebut. Trek cepat dengan tikungan panjang dan beban tinggi pada ban belakang memperlihatkan kelemahan utama motor KTM.

Acosta menganggap pengalaman itu sebagai “peringatan keras” bagi tim pabrikan asal Austria tersebut. “Phillip Island sangat membantu kami,” katanya. “Bagi saya, sebagai pebalap, itu adalah akhir pekan terbaik saya secara keseluruhan di tur Asia. Saya pikir ini membantu KTM untuk mengaktifkan peringatan dan mulai bekerja lebih baik dalam manajemen ban.”

Ia menambahkan bahwa KTM kini memiliki arah yang lebih jelas untuk pengembangan menjelang Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang. Dengan suhu lintasan yang tinggi dan tingkat degradasi ban yang ekstrem, Sepang akan menjadi ujian nyata bagi hasil pembelajaran mereka dari Australia.

“Sekarang kami tahu di mana harus memfokuskan pekerjaan kami,” lanjut Acosta. “Kami tidak perlu berekspektasi terlalu tinggi. Kami hanya harus keluar ke trek, berlatih, dan merasakan bagaimana performa motor. Itu langkah terbaik untuk memahami di mana posisi kami sebenarnya.”

Pedro Acosta juga menyoroti perkembangan signifikan dalam pendekatan mentalnya dan peningkatan teknis KTM sejak awal musim. Ia mengakui bahwa musim perdananya di kelas utama penuh tantangan, tetapi dengan kerja keras dan komunikasi yang baik dengan teknisi, performa RC16 perlahan membaik.

“Secara mental, saya jauh lebih baik sekarang,” ungkapnya. “Saya merasa lebih percaya diri, lebih tenang, dan berkendara dengan lebih konsisten. Sekarang fokusnya adalah bekerja keras untuk sedikit meningkatkan motor — apakah itu setelan, aerodinamika, atau hal-hal kecil lainnya yang bisa memberi kami keuntungan di lintasan.”

Menurut Acosta, setiap perubahan kecil bisa berdampak besar dalam perebutan posisi di MotoGP, terutama ketika selisih waktu antara pembalap sangat tipis. “Kami tidak perlu perubahan besar,” tambahnya. “Tapi kami butuh konsistensi. Di MotoGP, perbedaan sepersepuluh detik bisa berarti tiga posisi di grid.”

Dalam dua pekan terakhir, MotoGP menyaksikan dua pemenang baru: Fermin Aldeguer yang menguasai Grand Prix Indonesia bersama Gresini Ducati, dan Raul Fernandez yang membawa Trackhouse Aprilia meraih kemenangan pertama di Australia. Sementara banyak pembalap muda mungkin merasa tertekan melihat rekan-rekannya menang lebih dulu, Acosta justru melihat hal itu sebagai motivasi tambahan.

“Yang pasti, saya sangat lapar untuk meraih kemenangan ini,” ujarnya. “Tapi pada akhirnya, kita tahu apa yang kurang di dalam kotak itu. Kita tahu apa kelemahan kita, dan sekarang saatnya bekerja untuk memperbaikinya.”

Ia memuji langkah besar yang dibuat oleh Aprilia dan Ducati musim ini, namun menegaskan bahwa KTM juga sedang berada di jalur yang benar. “Aprilia membuat kemajuan besar dan kini menjadi pabrikan kedua di kejuaraan. Ducati masih mendominasi, sementara Honda mulai bangkit. Kami hanya harus tenang dan terus bekerja. Kami sadar di mana kekuatan dan kelemahan kami, dan itu memberi kami arah yang jelas.”

Menuju Grand Prix Malaysia, fokus utama KTM adalah memastikan bahwa masalah keausan ban di Phillip Island tidak terulang kembali. Pedro Acosta yakin bahwa kondisi lintasan di Sepang lebih cocok dengan karakteristik RC16, tetapi tantangan manajemen ban tetap menjadi prioritas utama.

“Yang pasti, Malaysia akan lebih cocok untuk kami dibanding Phillip Island,” katanya. “Namun, itu tidak berarti akan mudah. Manajemen ban tetap menjadi tantangan besar, terutama dengan suhu lintasan yang tinggi. Tapi sekarang kami lebih siap.”

Bagi Acosta, balapan di Sepang bukan hanya soal hasil, melainkan tentang progres. Ia menilai tiga balapan terakhir musim ini — Malaysia, Qatar, dan Valencia — akan menjadi kesempatan besar bagi KTM untuk mengukur kemajuan teknis dan strategi mereka sebelum fokus pada pengembangan motor untuk musim 2026.

“Saya pikir peluang bagus akan datang bagi kami dalam tiga balapan terakhir,” tegasnya. “Kuncinya adalah menjaga arah kerja kami tetap konsisten. Cepat atau lambat, perbaikan akan datang.”

KTM di persimpangan jalan

Acosta beraksi di MotoGP Australia bersama Red Bull KTM
Pedro Acosta dan Fabio Di Giannantonio saat balapan MotoGP Australia di Sirkuit Grand Prix Phillip Island pada 19 Oktober 2025 di Phillip Island, Australia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images

Jika melihat tren musim ini, KTM berada di titik penting dalam evolusi RC16. Performa mereka di satu lap sering kali kompetitif, tetapi masalah konsistensi ban dan degradasi membuat mereka sulit mempertahankan posisi di balapan panjang. Pengakuan Pedro Acosta bahwa “Phillip Island menjadi peringatan” menandakan adanya kesadaran internal bahwa solusi jangka panjang dibutuhkan — bukan hanya dari sisi pengendara, tetapi juga dari teknis dan strategi balapan.

Bagi KTM, kunci utama terletak pada peningkatan stabilitas motor saat menikung cepat dan manajemen suhu ban. Phillip Island mengungkapkan kelemahan utama mereka, tetapi juga memberikan data berharga yang bisa menjadi dasar pengembangan berikutnya.

Pedro Acosta, yang masih tergolong pembalap muda, menunjukkan kematangan luar biasa dalam membaca situasi timnya. Pendekatannya yang realistis namun optimistis menjadi sinyal positif bagi masa depan KTM di MotoGP.

Kata-kata Pedro Acosta setelah MotoGP Australia menunjukkan arah jelas bagi KTM. Dari frustrasi atas keausan ban menjadi refleksi yang membangun, ia berhasil mengubah kekalahan menjadi momentum evaluasi. Jika KTM benar-benar mampu memperbaiki masalah yang menghambat performa RC16, Grand Prix Malaysia bisa menjadi awal dari kebangkitan tim oranye tersebut di akhir musim 2025.

Posting Komentar untuk "Phillip Island membuka mata KTM terhadap masalah ban"