Pedro Acosta nilai Ducati dan Aprilia lebih stabil dari KTM

Pedro Acosta mengatakan Ducati dan Aprilia memiliki motor yang sangat stabil, sementara KTM masih naik turun dalam performa.

Pedro Acosta nilai Ducati dan Aprilia lebih stabil dari KTM
Pembalap Red Bull KTM Factory Racing nomor 37, Pedro Acosta, naik podium setelah balapan di Grand Prix Indonesia pada 5 Oktober, 2025 di Mandalika, Indonesi. Foto oleh Stephen Blackberry/SOPA Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Pedro Acosta kembali membuat penilaian tajam mengenai peta persaingan antar pabrikan di ajang MotoGP 2025. Menurutnya, Ducati dan Aprilia lebih stabil dari KTM, terutama menjelang penghujung musim. Pembalap asal Spanyol itu menyoroti perbedaan mencolok antara motor pabrikan Italia dan timnya sendiri yang masih berjuang mencari konsistensi di berbagai sirkuit.

Dalam wawancaranya setelah Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika, Acosta mengatakan bahwa performa Ducati dan Aprilia terlihat jauh lebih stabil di hampir semua lintasan. Sementara itu, KTM, meskipun menunjukkan peningkatan sejak jeda musim panas, masih mengalami fluktuasi yang membuatnya sulit bersaing di setiap akhir pekan balapan.

Sejak awal musim, Ducati terus memperlihatkan dominasinya di lintasan MotoGP. Meskipun sempat menghadapi sejumlah masalah teknis dengan motor GP25, pabrikan asal Bologna itu berhasil mempertahankan keunggulannya dalam kejuaraan pabrikan.

Dengan total 13 kemenangan yang diraih oleh dua pembalap utama mereka, Marc Marquez dan Pecco Bagnaia, Ducati berhasil mengamankan posisi teratas klasemen konstruktor dengan keunggulan 338 poin. Bahkan dengan empat balapan tersisa, posisi mereka hampir mustahil tergeser.

Di luar tim pabrikan, skuad satelit Gresini juga tampil gemilang dengan GP24. Alex Marquez dan Fermin Aldeguer masing-masing berhasil meraih tiga kemenangan, membuktikan bahwa motor Ducati tetap kompetitif meski digunakan oleh tim non-pabrikan.

Dalam situasi di mana Ducati tampak terlalu kuat, hanya Aprilia dan Honda yang mampu mencuri kemenangan dari genggaman mereka pada musim ini—meski hanya dua kali. Bagi Aprilia, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan mereka menuju arah yang benar, terutama dalam hal stabilitas dan traksi keluar tikungan.

Namun, berbeda dengan Aprilia, Honda masih berada dalam tahap pemulihan setelah beberapa musim buruk. Joan Mir sempat mengejutkan banyak pihak di Grand Prix Jepang dengan performa kompetitifnya, bahkan sempat menyalip Acosta di tengah balapan.

Momen itu menjadi perhatian tersendiri bagi Acosta. Ia mengakui bahwa performa Honda yang meningkat menunjukkan bahwa pabrikan Jepang tersebut mulai menemukan arah yang benar, meskipun belum sepenuhnya stabil.

Bagi Pedro Acosta, KTM masih belum menemukan kestabilan performa yang dimiliki Ducati dan Aprilia. Ia menilai, kendati timnya menunjukkan progres signifikan setelah libur musim panas, performa KTM masih terlalu bergantung pada karakteristik sirkuit.

“Kami tidak tahu apa yang diharapkan di satu trek atau trek lainnya,” kata Acosta. “Kadang kami tampil kuat, kadang kesulitan besar. Ini membuat kami tidak bisa memprediksi hasil dengan pasti seperti yang dilakukan Ducati atau Aprilia.”

Pembalap muda itu juga menyoroti bahwa keunggulan Ducati bukan hanya pada tenaga mesin, melainkan pada keseimbangan aerodinamis dan efisiensi perangkat elektroniknya. Motor mereka bisa tampil konsisten di berbagai kondisi cuaca dan jenis lintasan, sesuatu yang menurutnya masih menjadi kelemahan utama KTM.

Dalam beberapa musim terakhir, Ducati dikenal sebagai pabrikan dengan pendekatan teknis yang paling agresif di MotoGP. Mereka berani bereksperimen dengan solusi aerodinamika ekstrem dan sistem ride height yang inovatif. Sementara itu, Aprilia mengikuti jalur serupa dengan menitikberatkan pengembangan pada stabilitas dan kontrol traksi.

Hasilnya terlihat jelas. Baik Pecco Bagnaia maupun Marc Marquez nyaris selalu berada di barisan depan. Begitu juga dengan pembalap Aprilia seperti Marco Bezzecchi dan Maverick Vinales yang mulai menemukan ritme di pertengahan musim.

Acosta menilai bahwa stabilitas ini menjadi faktor pembeda utama. “Masalah dengan Ducati adalah mereka terlalu konsisten,” ujarnya dengan nada setengah bercanda. “Tidak peduli siapa pembalapnya atau di tim mana mereka berada, motor Ducati selalu melaju cepat.”

Meskipun mendapat kritik, KTM bukan tanpa kemajuan. Sejak pertengahan musim, mereka menunjukkan peningkatan yang signifikan, baik dari sisi akselerasi maupun pengendalian di tikungan. Pedro Acosta sendiri beberapa kali naik podium pada paruh kedua musim, termasuk posisi kedua di Grand Prix Mandalika.

Pabrikan asal Austria itu terus melakukan uji coba dengan paket aerodinamika baru serta perbaikan sistem pengereman untuk menyaingi Ducati dan Aprilia. Namun, hasilnya belum sepenuhnya memuaskan. Acosta mengakui, peningkatan yang mereka capai belum cukup untuk menembus dominasi pabrikan Italia tersebut.

“Kami sudah membuat langkah yang sangat baik sejak jeda musim panas hingga sekarang,” kata Acosta. “Tapi kami harus menemukan sesuatu yang lebih baik lagi jika ingin benar-benar bersaing di musim depan.”

Perebutan posisi kedua

Dengan hasil podium di Mandalika, KTM kini hanya tertinggal 28 poin di belakang Aprilia dalam klasemen pabrikan. Posisi ini membuka peluang bagi KTM untuk finis sebagai runner-up musim ini—sebuah pencapaian yang akan menjadi dorongan moral besar bagi tim menjelang musim 2026.

Sementara itu, Aprilia kehilangan poin penting setelah Marco Bezzecchi terjatuh di lap pembuka akibat kontak dengan Marc Marquez. Insiden tersebut membuat perburuan posisi kedua semakin menarik untuk diikuti dalam empat balapan terakhir.

Jika KTM berhasil mempertahankan performanya, mereka memiliki peluang besar untuk menyalip Aprilia di akhir musim, meskipun jarak dengan Ducati tetap tidak terkejar.

Kendati menunjukkan potensi besar, masalah KTM tampaknya bukan sekadar teknis, tetapi juga struktural. Mereka menghadapi tantangan dalam membangun motor yang bisa beradaptasi dengan berbagai karakter lintasan tanpa kehilangan kecepatan atau stabilitas.

Salah satu kelemahan KTM adalah kurangnya konsistensi dalam pengembangan data antar pembalap. Dengan gaya balap Acosta yang agresif dan gaya Brad Binder yang lebih halus, tim sering kali kesulitan menemukan setelan dasar yang ideal untuk kedua pembalap.

Selain itu, dalam hal perangkat elektronik dan kontrol traksi, Ducati dan Aprilia masih unggul. Mereka telah mengoptimalkan sistem untuk menjaga grip ban di berbagai kondisi, sementara KTM masih bergulat dengan kehilangan traksi di tikungan cepat.

Pedro Acosta tetap optimis dengan masa depan KTM. Meski sadar jarak dengan Ducati dan Aprilia masih cukup jauh, ia percaya proyek pengembangan jangka panjang KTM akan membuahkan hasil. Pabrikan Austria itu kabarnya tengah menyiapkan paket aerodinamis baru dan sistem elektronik yang lebih canggih untuk musim 2026.

Namun, jika tidak ada terobosan besar, dominasi Ducati kemungkinan akan terus berlanjut. Stabilitas yang mereka miliki tidak hanya hasil dari kecepatan, tetapi juga dari koordinasi organisasi, pengelolaan data, dan dukungan kuat dari tim satelit seperti Gresini dan Pramac.

Acosta menutup komentarnya dengan refleksi yang jujur. “Kami tidak terlalu jauh, tapi juga belum cukup dekat,” katanya. “KTM punya potensi besar, tapi kami harus lebih stabil. Lihat Ducati—mereka tidak sempurna, tapi selalu konsisten. Dan di MotoGP, konsistensi itulah yang membuatmu juara.”

Posting Komentar untuk "Pedro Acosta nilai Ducati dan Aprilia lebih stabil dari KTM"