Masalah start hampir gagalkan balapan Alex Marquez

Alex Marquez perkuat keunggulan poin atas Bagnaia setelah finis ketiga di Mandalika meski alami masalah perangkat start.

Masalah start hampir gagalkan balapan Alex Marquez
Alex Marquez yang mengendarai Ducati BK8 Gresini Racing (73), bersama Carmelo Ezpeleta CEO Dorna Sports, di Parc Ferme setelah balapan MotoGP Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok, pada 5 Oktober 2025. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Pada hari ketika kakaknya, Marc Marquez, terlibat kecelakaan dengan Marco Bezzecchi dan mengalami cedera bahu kanan, Alex Marquez justru membawa kabar baik bagi keluarga Marquez. Pembalap Gresini Ducati itu berhasil finis di posisi ketiga pada Grand Prix MotoGP Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika. Hasil ini membuat Alex memperlebar keunggulan poin atas Francesco Bagnaia menjadi 88, memperkuat peluangnya untuk memastikan posisi kedua di klasemen akhir MotoGP 2025.

Namun, perjalanan menuju podium tidak berjalan mudah. Alex Marquez mengaku sempat mengira balapannya akan berakhir bahkan sebelum dimulai, setelah ia mengalami masalah teknis pada perangkat holeshot bagian depan motornya saat start.

Alex Marquez memulai balapan dengan catatan yang buruk. Ia tidak dapat mengaktifkan holeshot device pada bagian depan motor, perangkat penting yang berfungsi menurunkan bagian depan motor saat start untuk menghindari wheelie dan meningkatkan traksi.

"Saya memulai balapan dengan sangat buruk. Saya tidak mengaktifkan perangkat depan, jadi saya mengucapkan 'selamat tinggal' pada balapan ini," ungkap Alex setelah balapan.

Meski begitu, pembalap asal Spanyol itu mengaku beruntung masih mampu melakukan start cukup baik. "Untungnya, saya bisa melakukan start yang lumayan, tapi saya tetap kehilangan beberapa posisi," katanya.

Pada lap pertama, Alex sempat terperangkap di tengah kerumunan pembalap lain. Insiden antara Marc Marquez dan Bezzecchi di depan justru sedikit membuka jalannya, namun ia tetap kehilangan posisi dan sempat turun ke urutan kedelapan. "Saya tidak tahu posisi saya di putaran pertama. Saya hanya berusaha untuk konsisten dan tidak membuat kesalahan," tambahnya.

Momen kebangkitan Alex Marquez dimulai di pertengahan balapan. Setelah Joan Mir terjatuh, Alex naik ke posisi ketujuh. Ia kemudian menyalip Fabio Quartararo pada lap ke-10, diikuti oleh Luca Marini di lap ke-14, Raul Fernandez di lap ke-15, Pedro Acosta di lap ke-22, dan akhirnya Alex Rins di lap ke-23 dari total 27 lap.

“Saya berada di belakang Yamaha, dengan Quartararo dan Rins di depan saya. Mereka sangat cepat dengan ban belakang lunak di awal, jadi hampir mustahil untuk menyalip mereka,” jelas Marquez. “Tapi kemudian saya mulai menyalip satu per satu dan merasa sedikit lebih baik. Saya melakukan semuanya dengan sabar, hanya berusaha untuk tidak membuat kesalahan.”

Manuvernya yang bersih dan konsisten mengantarkannya ke posisi kedua di belakang rekan setimnya, Fermin Aldeguer, menjelang beberapa lap terakhir. Namun, Pedro Acosta yang tampil kuat di akhir balapan berhasil menyalipnya di dua lap terakhir, membuat Alex harus puas finis di posisi ketiga.

“Dua lap terakhir, Pedro lebih cepat dari saya,” aku Alex. “Dia menyalip saya, dan saya bilang, podium sudah cukup setelah semua masalah yang kami hadapi akhir pekan ini.”

Bagi Alex Marquez, podium ketiganya musim ini terasa seperti kemenangan kecil di tengah akhir pekan yang penuh tantangan. “Hasilnya bagus. Tahun lalu kami sangat menderita di sini,” ujarnya. “Di atas kertas, ini adalah salah satu trek terlemah saya di Mandalika, jadi kami menyelamatkan akhir pekan ini dengan cara yang sangat baik.”

Konsistensi menjadi kunci keberhasilan Marquez sepanjang musim 2025. Meski beberapa kali mengalami masalah teknis, ia selalu mampu bangkit dan mengamankan posisi penting di klasemen. Hasil podium di Mandalika juga menunjukkan kematangan balapnya, terutama dalam mengatur ritme dan kesabaran saat menghadapi situasi sulit.

Dengan Francesco Bagnaia gagal finis di kedua balapan di Mandalika, Alex kini memperlebar keunggulan poin menjadi 88. Secara matematis, ia bisa kehilangan rata-rata 21 poin dari Bagnaia di empat ronde terakhir dan tetap mempertahankan posisi kedua klasemen dunia.

Sebagai perbandingan, Bagnaia hanya mampu unggul lebih dari 21 poin atas Alex dalam satu seri sepanjang musim ini, yaitu di Grand Prix Jepang. Hal ini menunjukkan betapa stabilnya performa Marquez muda sepanjang musim berjalan.

“Kami meraih banyak poin penting untuk posisi kedua di kejuaraan,” katanya. “Sekarang kami harus menatap ke depan ke Australia.”

Performa Alex Marquez di MotoGP Indonesia menandai transformasi signifikan dalam kariernya. Ia bukan lagi sekadar “adik dari Marc Marquez,” tetapi pembalap matang yang tahu kapan harus menunggu, kapan harus menyerang, dan kapan harus menjaga ritme balapan.

Ketenangan Marquez di tengah tekanan, terutama setelah start yang buruk dan masalah teknis, memperlihatkan kemampuannya dalam menjaga fokus. Dalam dunia MotoGP modern, di mana setiap kesalahan kecil bisa berujung fatal, kualitas ini sangat penting.

Kemampuannya membaca situasi balapan juga patut diapresiasi. Ia tidak terburu-buru menyalip ketika peluang belum jelas, melainkan menunggu momentum yang tepat. Pendekatan ini membuatnya bisa menjaga ban dalam kondisi optimal hingga lap-lap akhir, saat sebagian pembalap lain mulai kehilangan grip.

Selain itu, kolaborasi erat antara Marquez dan tim Gresini Ducati terlihat semakin kuat. Setelah kesulitan adaptasi di awal musim, Alex kini tampak menyatu dengan Desmosedici GP25 miliknya. Ia juga semakin percaya diri dalam menyesuaikan setelan motor dengan gaya balapnya sendiri — berbeda dengan gaya agresif kakaknya, Marc.

Persaingan dengan Bagnaia

Persaingan antara Alex Marquez dan Francesco Bagnaia di paruh akhir musim MotoGP 2025 menjadi salah satu sorotan utama. Keduanya sama-sama menggunakan motor Ducati, namun hasil mereka di lintasan menunjukkan kontras yang menarik.

Bagnaia, juara bertahan dua kali, menghadapi musim yang tidak konsisten. Beberapa kecelakaan dan kesalahan strategi membuatnya kehilangan banyak poin penting. Sebaliknya, Alex Marquez justru tampil stabil dan terus mencetak poin di hampir semua seri.

Dengan empat seri tersisa — Australia, Thailand, Qatar, dan Valencia — tekanan kini beralih ke Bagnaia. Jika tren performa ini berlanjut, Alex berpeluang besar menutup musim di posisi kedua klasemen, memberikan Gresini hasil terbaik mereka dalam sejarah MotoGP modern.

Hasil di Mandalika tidak hanya memperkuat posisi Alex Marquez di klasemen, tetapi juga menjadi simbol kebangkitannya sebagai pembalap papan atas. Dalam kondisi trek panas, dengan masalah teknis di awal balapan, dan tekanan akibat cedera kakaknya, Alex tetap berhasil membawa pulang podium.

Lebih dari sekadar hasil, performa tersebut menunjukkan kematangan emosional dan teknis. Ia tidak lagi hanya bergantung pada kecepatan mentah, tetapi juga strategi dan kesabaran. Di dunia MotoGP yang semakin kompetitif, keseimbangan antara keduanya menjadi penentu utama kesuksesan.

Kini, dengan kepercayaan diri tinggi, Alex Marquez menatap Grand Prix Australia dengan motivasi baru. Ia tahu bahwa setiap balapan yang tersisa bukan hanya tentang poin, tetapi juga tentang membangun momentum menuju musim 2026 — musim di mana ia ingin menegaskan bahwa nama “Marquez” tak hanya berarti satu pembalap, tapi dua legenda dalam satu generasi.

Posting Komentar untuk "Masalah start hampir gagalkan balapan Alex Marquez"