Dari podium Motegi ke kekecewaan Mandalika

Pembalap Honda, Joan Mir, menyesalkan kehilangan peluang podium akibat masalah pemanasan ban di Mandalika.

Dari podium Motegi ke kekecewaan Mandalika
Joan Mir terlihat dibonceng seseorang saat balapan MotoGP Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika pada 5 Oktober 2025 di Lombok, Indonesia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Pembalap Honda, Joan Mir, mengalami akhir pekan yang mengecewakan di MotoGP Indonesia setelah terjatuh di lap kedua Grand Prix di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok. Setelah penampilan menjanjikan di Sprint dan keyakinan bahwa dirinya bisa bersaing untuk podium, pembalap asal Spanyol itu harus menelan kekecewaan besar. Insiden tersebut menutup peluang Honda untuk meraih dua podium beruntun setelah performa solid di Motegi.

Dalam wawancaranya seusai balapan, Mir menyebut bahwa insiden tersebut terjadi bukan karena kesalahan mengemudi, tetapi akibat kesulitan dalam memanaskan ban belakang sedang (medium rear tire) pada lap-lap awal. Ia menjelaskan, “Saya marah hari ini karena kami kehilangan kesempatan untuk memperebutkan podium lainnya, tetapi terkadang hal-hal seperti ini terjadi. Motornya benar-benar tidak bisa dikendarai pada dua putaran pertama.”

Sejak sesi latihan bebas hingga balapan, para pembalap sudah menyadari bahwa kondisi aspal Mandalika yang panas ekstrem akan menjadi tantangan besar. Michelin bahkan membawa konstruksi ban belakang yang diperkuat untuk menghadapi tekanan suhu tinggi di lintasan ini. Namun, solusi tersebut tampaknya justru memunculkan masalah baru bagi sebagian pembalap, termasuk Mir.

Pada Grand Prix, Mir dan sebagian besar pesaingnya memutuskan beralih dari ban belakang lunak ke ban sedang. Keputusan ini dimaksudkan untuk menjaga daya tahan ban hingga akhir balapan, tetapi justru membuat Mir kesulitan memanaskan ban pada fase awal.

Menurutnya, pada dua lap pertama, suhu ban terlalu dingin hingga motor menjadi tak stabil di tikungan. “Bukan berarti saya mencoba menyalip seseorang dan jatuh,” kata Mir. “Saya hanya berusaha memanaskan ban belakang, tetapi di setiap titik pengereman saya melebar tanpa bisa mendorong motor.”

Akibatnya, ketika mencoba mengatur kecepatan di Tikungan 16, ban kehilangan daya cengkeram dan membuat Mir terjatuh.

Hanya seminggu sebelumnya, Joan Mir menikmati podium gemilang di Motegi — podium pertamanya sejak bergabung dengan Honda. Hasil itu dianggap sebagai sinyal kebangkitan tim setelah setengah musim penuh kesulitan. Namun, kekecewaan di Mandalika menjadi pukulan berat bagi Honda yang sedang berupaya memperbaiki konsistensi.

Rekan setimnya, Luca Marini, tampil kompetitif sepanjang akhir pekan dan bahkan berjuang di barisan depan sebelum finis kelima. Kontras dengan hasil Mir, performa Marini memperlihatkan bahwa Honda mulai menemukan arah pengembangan motor yang benar. Namun bagi Mir, peluang meraih dua podium beruntun pupus dalam waktu kurang dari dua lap.

Dalam konteks musim 2025 yang semakin kompetitif, kehilangan poin penting di Mandalika membuat Mir tertinggal lebih jauh dalam klasemen pembalap. Ia kini duduk di posisi ke-15, terpaut cukup jauh dari rekan setimnya dan pembalap-pembalap dari tim satelit Honda, seperti Johann Zarco di LCR.

Salah satu poin penting dalam analisis Mir adalah sifat ban belakang Michelin yang digunakan di sirkuit bersuhu ekstrem seperti Mandalika. Menurutnya, ban ini terlalu sulit untuk dipanaskan pada lap-lap awal, terutama jika pembalap memilih kompon sedang.

“Trek dan bangkai ban ini berbeda. Lebih keras dan lebih sulit dipahami,” ujar Mir. “Tahun ini, trek seperti Mandalika menjadi mimpi buruk bagi semua orang.”

Ia menilai bahwa ketika ban tak bekerja optimal, hasil balapan pun menjadi sulit diprediksi. “Ketika kekacauan seperti ini terjadi, kadang-kadang orang yang tidak biasa justru bisa bertarung di depan,” katanya sambil menyinggung keberhasilan Fermin Aldeguer yang tampil luar biasa dan meraih kemenangan.

Aldeguer memang tampil sebagai pemenang balapan dengan keunggulan dominan. Sementara itu, Mir hanya bisa menyaksikan dari garasi ketika rekan-rekannya berjuang di lintasan. Balapan sendiri berlangsung lambat, dengan sebagian besar pembalap berhati-hati agar tidak merusak ban.

Meski Mir gagal finis, hasil keseluruhan Honda di Indonesia tetap menunjukkan kemajuan signifikan. Luca Marini finis di posisi kelima, hanya terpaut 1,2 detik dari podium terakhir yang direbut oleh Alex Marquez.

Motor RC213V versi terbaru dinilai sudah lebih kompetitif, terutama di sektor mesin dan aerodinamika. Setelah jeda musim panas, Honda berhasil melakukan peningkatan pada sasis, lengan ayun, serta sistem tenaga, yang kini mulai membuahkan hasil.

Namun, seperti diungkapkan Marini sehari sebelumnya, pengembangan ini masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Salah satunya adalah kemampuan motor memaksimalkan cengkeraman ban belakang saat time attack atau di awal balapan. Hal ini menjadi kunci utama jika Honda ingin bersaing secara reguler di barisan depan.

Kegagalan Mir di Mandalika menjadi pelajaran penting bagi tim dalam memahami perilaku ban di lintasan bersuhu tinggi. Mir menekankan pentingnya menganalisis data agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami harus memahami apa yang kami lakukan secara berbeda atau apa yang dapat kami tingkatkan, karena kami melewatkan sesuatu hari ini, secara teknis,” ujarnya. “Kami akan memeriksa dan belajar untuk masa depan.”

Sikap reflektif Mir menunjukkan bahwa ia tetap berkomitmen terhadap proyek jangka panjang Honda. Meskipun musim ini penuh pasang surut, performa mereka di beberapa seri terakhir menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang nyata.

Honda diketahui sudah menguji prototipe RC213V 2026 dengan harapan besar memperbaiki aspek akselerasi, stabilitas, dan efisiensi tenaga. Mir sendiri terlibat langsung dalam pengujian motor tersebut bersama Marini dan test rider Stefan Bradl.

Potret perubahan Honda di era pasca krisis

Meski hasil di Mandalika tidak sesuai harapan, arah pengembangan Honda menuju musim 2026 tampak semakin jelas. Tim kini berfokus pada dua hal: menstabilkan performa ban di berbagai kondisi dan meningkatkan daya tahan motor saat balapan penuh.

Joan Mir sendiri mengakui bahwa perubahan positif sudah mulai terasa, terutama dari segi mesin. Namun, adaptasi terhadap karakteristik ban dan cuaca tropis seperti di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang berat.

Musim ini, Mir kerap memperlihatkan kecepatan di sesi latihan dan Sprint, tetapi kesulitan mempertahankan ritme di Grand Prix. Hal ini menandakan bahwa Honda perlu mencari solusi yang memungkinkan ban bekerja optimal sejak awal balapan.

Dengan lima seri tersisa, Mir berharap dapat menutup musim dengan catatan positif dan menyiapkan diri untuk 2026. Ia yakin Honda memiliki potensi besar untuk kembali ke barisan depan jika terus bekerja dengan arah yang konsisten.

Kegagalan Joan Mir di MotoGP Indonesia seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kesalahan teknis semata. Insiden ini menggambarkan fase transisi yang tengah dijalani Honda—dari masa krisis menuju tahap kebangkitan.

Selama dua tahun terakhir, Honda mengalami salah satu periode tersulit dalam sejarah MotoGP. Performa mereka merosot setelah era Marc Marquez, dan para pembalap kerap kesulitan menemukan keseimbangan antara kekuatan mesin dan kendali sasis.

Namun, dalam paruh kedua musim 2025, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat. Peningkatan performa Marini, podium Mir di Motegi, dan daya saing mereka di lintasan lurus menjadi bukti bahwa RCV mulai pulih.

Dengan dukungan pengembangan besar-besaran dari pabrikan di Jepang dan kerja keras para insinyur di Eropa, Honda tampaknya siap untuk kembali bersaing dengan Ducati dan Aprilia dalam dua musim ke depan.

Joan Mir, meski belum meraih hasil yang stabil, memainkan peran penting dalam proses ini. Kejujurannya dalam mengevaluasi kekurangan motor, serta kemampuannya membaca perilaku ban dan setup, menjadi nilai tambah bagi tim.

Posting Komentar untuk "Dari podium Motegi ke kekecewaan Mandalika"