Fabio Di Giannantonio ingin motor Ducati yang lebih konsisten

Pembalap tim VR46, Fabio Di Giannantonio, frustrasi dengan performa GP25 yang tidak stabil, namun tetap optimis bisa menutup musim dengan kuat.

Fabio di Giannantonio ingin motor Ducati yang lebih konsisten
Fabio Di Giannantonio dari Italia mengendarai Pertamina Enduro VR46 Ducati (49) berlatih flag to flag saat balapan MotoGP Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika pada 05 Oktober 2025 di Lombok, Indonesia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Di tengah perdebatan mengenai perubahan mesin Ducati pada motor pabrikan milik Francesco Bagnaia, rekan sesama pengguna GP25, Fabio Di Giannantonio, memilih untuk tetap fokus pada hal yang lebih mendasar. Alih-alih terseret dalam isu teknis yang kompleks, pembalap VR46 itu menegaskan bahwa tujuannya sederhana — menemukan konsistensi dalam performa motornya agar bisa bersaing di papan atas MotoGP 2025.

Dalam beberapa bulan terakhir, Fabio Di Giannantonio, atau yang akrab disapa Diggia, berjuang keras mengikuti langkah Marc Marquez yang tampil luar biasa dengan motor GP25 versi pabrikan. Meski belum bisa menandingi performa Marquez, penampilan Diggia jauh dari kata buruk. Ia sudah melampaui total poin terbaiknya di musim lalu dan tengah berjuang merebut posisi kelima dalam klasemen kejuaraan dunia, bersaing ketat dengan Pedro Acosta dan rekan setimnya, Franco Morbidelli.

Meskipun mencatatkan enam podium di Sprint dan GP tahun ini, Fabio Di Giannantonio masih menyimpan rasa frustrasi. Bukan karena kecepatan yang kurang, tetapi karena motornya terasa berbeda dari hari ke hari — seolah kehilangan karakter dan kestabilan. Hal inilah yang menjadi sumber kebingungan bagi dirinya dan tim.

"Saya, Ducati, dan tim bekerja sangat keras untuk mencoba memahami apa yang terjadi dengan motornya, untuk memahami mengapa motornya tidak selalu bekerja dengan cara yang sama," ujar di Giannantonio di sela akhir pekan MotoGP Mandalika. "Namun, kami masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk menganalisis semuanya dan menemukan jawaban yang jelas. Saya berusaha agar umpan baliknya setepat mungkin."

Pernyataan ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi pembalap VR46 tersebut. Di satu sisi, Ducati dikenal sebagai pabrikan paling dominan di MotoGP dengan sumber daya teknis yang luar biasa. Namun di sisi lain, banyak pembalapnya — termasuk juara dunia Bagnaia — tengah kesulitan menemukan keseimbangan ideal dari motor GP25 yang kompleks.

Salah satu perbedaan paling mencolok antara Marc Marquez dan pembalap GP25 lainnya adalah pada paket aerodinamika. Marquez diketahui menggunakan konfigurasi aerodinamis terbaru dari Ducati, sementara para pembalap Italia seperti di Giannantonio dan Bagnaia lebih memilih versi lama yang mereka anggap lebih stabil.

"Saya rasa Marc sedang dalam perjalanan. Tapi memang selalu seperti ini sepanjang tahun. Pecco dan saya, kami selalu mencari sesuatu yang berbeda. Dan paketnya pun sangat berbeda sepanjang tahun," jelas di Giannantonio. "Ducati punya banyak suku cadang dan kami bisa memodifikasi motornya sesuka hati. Semua orang berusaha menemukan kombinasi terbaik untuk melaju lebih cepat. Kami sedang bekerja keras."

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana kompleksitas teknologi Ducati justru dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka memiliki fleksibilitas untuk bereksperimen. Namun di sisi lain, setiap perubahan membawa risiko hilangnya rasa konsistensi yang sangat dibutuhkan pembalap.

Di tengah perdebatan ini, muncul pula rumor bahwa Bagnaia sempat menggunakan kombinasi GP24 dan GP25 saat tes di Misano dan Motegi. Eksperimen itu berujung hasil luar biasa — dua kemenangan beruntun dari posisi terdepan — namun hanya seminggu kemudian, performanya anjlok di Mandalika.

Situasi ini memperkuat pandangan bahwa Ducati masih mencari arah yang jelas dalam pengembangan motornya. Fabio Di Giannantonio, yang tahun ini langsung beralih dari GP23 satelit ke GP25 pabrikan, menanggapi rumor itu dengan tenang.

"Tahu nggak? Saya pakai motor versi terbaru dari Ducati. Dan kalau performanya bagus, motornya mantap banget!" ujarnya dengan nada santai. "Misalnya, saya ingin sekali mencoba lagi sepeda saya yang saya pakai hari Jumat di Jepang. Tapi sayangnya, itu sepeda yang sama dengan yang saya pakai saat balapan di Jepang!"

Pernyataan ini mengandung ironi — motor yang sama bisa terasa sangat berbeda dari satu hari ke hari berikutnya. Bagi seorang pembalap yang mencari stabilitas, kondisi seperti ini bisa sangat menguras energi mental.

Contoh paling jelas dari inkonsistensi ini terjadi di Grand Prix Jepang. Fabio Di Giannantonio memulai akhir pekan di Motegi dengan kecepatan impresif, finis kelima dalam latihan Jumat — dua posisi di depan Bagnaia. Namun keesokan harinya, performanya menurun drastis. Ia terlempar ke posisi ke-22 di latihan terakhir, dan kemudian hanya mampu start di urutan ke-12 di kualifikasi sebelum finis ke-13 di kedua balapan.

Performa yang naik-turun seperti ini menjadi cerminan musim yang penuh pasang surut. Di Giannantonio mengaku bahwa hal ini membuatnya semakin sadar pentingnya menemukan perasaan yang stabil terhadap motornya.

"Saya hanya ingin menemukan cara agar tim bisa memiliki rasa yang konsisten," tegasnya. "Sesuatu yang pasti berhasil. Itulah yang saya harapkan dari tim dan Ducati. Bukan, ‘Saya ingin komponen ini, dengan komponen itu, dari motor tahun berapa pun.’"

Ia menambahkan, "Saya hanya ingin menemukan perasaan itu secara konsisten, karena ketika kami memilikinya, kami sudah menunjukkan potensi luar biasa — seperti rekor waktu putaran di Sachsenring, atau podium yang kami capai tahun ini."

Mengejar posisi kelima

Kendati frustrasi, Fabio Di Giannantonio tetap menunjukkan kedewasaan luar biasa dalam menghadapi situasi yang sulit ini. Ia tidak menyalahkan tim, melainkan memilih untuk fokus memperbaiki dirinya sendiri. Bagi Diggia, kesabaran menjadi kunci.

"Saya banyak berkembang di sisi ini tahun ini karena saya sangat sabar, sabar, dan sabar," ujarnya. “Tidak kepada siapa pun secara khusus, hanya pada situasi ini, karena perilaku sepeda berubah. Sulit untuk menerimanya karena, sejujurnya, pada hari Jumat di Jepang saya pikir saya bisa menjadi salah satu yang tercepat pada hari Sabtu dan Minggu. Dan sepuluh jam kemudian, saya tidak ada apa-apanya.”

Ketika seorang pembalap mampu mengakui perubahan performa seperti itu tanpa kehilangan motivasi, itu menandakan kematangan mental yang kuat — sebuah kualitas penting di level MotoGP yang penuh tekanan.

Menjelang empat putaran terakhir musim ini, Fabio Di Giannantonio tertinggal 16 poin dari rekan setimnya Franco Morbidelli dan 24 poin dari Pedro Acosta. Selisih ini masih bisa dikejar, terutama jika Ducati berhasil menstabilkan performa GP25 miliknya di sisa musim.

Dengan potensi besar yang sudah ia tunjukkan sepanjang musim, di Giannantonio berpeluang menutup tahun dengan hasil terbaik dalam kariernya. Namun, syarat utamanya tetap sama: menemukan rasa yang konsisten dengan motornya.

Jika Ducati mampu memberikan kestabilan itu, maka Fabio Di Giannantonio bukan hanya bisa menantang podium — ia juga bisa menjadi ancaman serius bagi para pembalap pabrikan di musim 2026.

Posting Komentar untuk "Fabio Di Giannantonio ingin motor Ducati yang lebih konsisten"