Ducati tidak lagi anggap Yamaha sebagai rival utama
Dominasi Ducati membuat Yamaha hilang dari radar persaingan, dengan fokus tertuju pada Honda, Aprilia, dan KTM.
![]() |
| Davide Tardozzi dari Italia, manajer tim Ducati Lenovo, berada di grid sebelum balapan Sprint di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok, pada 4 Oktober 2025. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images |
Ducati tidak lagi anggap Yamaha sebagai rival utama di MotoGP, sebuah kenyataan pahit yang kini semakin jelas di paddock. Pabrikan asal Borgo Panigale itu baru saja meraih gelar konstruktor keenam berturut-turut di Barcelona, dengan tingkat kemenangan yang mencapai 91% pada musim ini. Dominasi mereka begitu besar sehingga seakan menutup ruang bagi pabrikan lain untuk mencuri perhatian.
Namun, alih-alih berpuas diri, Ducati tetap waspada. Davide Tardozzi, figur berpengaruh dalam tim merah, baru-baru ini menyusun daftar siapa saja yang dianggap sebagai lawan nyata bagi Ducati menjelang musim 2026. Hasilnya mengejutkan: Yamaha tidak lagi masuk dalam daftar rival utama.
Dalam sebuah wawancara dengan media Spanyol Marca, Tardozzi ditanya apakah Ducati bisa melanjutkan dominasinya. Jawabannya mencerminkan kombinasi antara penghormatan dan sindiran halus. Ia menyinggung Honda yang mulai menunjukkan kemajuan, Aprilia yang semakin konsisten, serta KTM yang dianggap mampu memberi kejutan meski tidak stabil.
Namun, satu nama besar hilang dari daftar itu: Yamaha. Tidak ada satu kata pun dari Tardozzi tentang pabrikan asal Iwata itu. Sebuah sinyal jelas bahwa M1 tidak lagi menimbulkan rasa takut bagi Ducati.
Mengapa Ducati tidak lagi anggap Yamaha sebagai rival utama di MotoGP? Jawabannya ada pada performa buruk M1 musim ini. Yamaha hanya mampu meraih satu podium sepanjang tahun, sementara Fabio Quartararo, satu-satunya pembalap yang masih bisa memberikan sedikit harapan, lebih banyak berkilau di sesi kualifikasi ketimbang balapan.
Quartararo berhasil mengamankan empat pole position – jumlah terbaik kedua setelah Marc Marquez – namun begitu lampu start padam, performanya langsung merosot. Mesin empat silinder segaris Yamaha kalah bersaing dengan konfigurasi V4 yang digunakan Ducati, Aprilia, dan KTM. Akibatnya, Yamaha tampak seperti tim yang tertinggal satu generasi dalam hal teknologi.
Di balik layar, Yamaha memang tidak tinggal diam. Mereka mempercepat pengembangan mesin V4 sebagai respons terhadap tekanan besar dari Quartararo. Sang juara dunia 2021 sudah lama mengeluhkan lemahnya performa M1, dan proyek ini dipandang sebagai jalan keluar.
Namun, upaya tersebut datang terlambat. Perubahan regulasi pada tahun 2027 akan mengurangi kapasitas mesin menjadi 850 cc dan mewajibkan penggunaan bahan bakar berkelanjutan 100%. Artinya, semua pabrikan harus kembali merancang motor dari awal. Risiko terbesar bagi Yamaha adalah menghadirkan mesin V4 yang kompetitif... hanya untuk kemudian harus membuangnya karena regulasi baru.
Dengan kata lain, Yamaha bisa saja memenangkan pertempuran teknis kecil, tetapi tetap kalah dalam perang jangka panjang.
Ketidakhadiran nama Yamaha dalam pernyataan Tardozzi juga menunjukkan bagaimana citra tim itu kini merosot di mata rival. Bahkan Honda, yang sempat terpuruk dua musim penuh, disebut sebagai lawan yang layak dihormati. Aprilia makin diperhitungkan dengan konsistensi dan performa Aleix Espargaró, sementara KTM menunjukkan potensi besar meski belum stabil.
Yamaha, sebaliknya, tidak lagi dianggap ancaman. Kondisi ini memperlihatkan keterpurukan merek dengan sejarah panjang di MotoGP, termasuk era kejayaan bersama Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Kini, seolah-olah masa kejayaan itu sudah jauh tertinggal.
Fabio Quartararo menjadi satu-satunya titik terang dalam proyek Yamaha saat ini. Catatan kualifikasinya menunjukkan bahwa ia masih salah satu pembalap tercepat di grid. Namun, saat balapan dimulai, performa motornya tidak mampu menandingi Ducati, Aprilia, atau bahkan Honda.
Juara dunia 2021 itu terus menekan Yamaha agar mempercepat transformasi teknis. Namun, jika hasil nyata tidak segera datang, Yamaha berisiko kehilangan lebih dari sekadar podium: mereka bisa kehilangan Quartararo itu sendiri. Dalam paddock yang semakin kompetitif, pembalap top tidak akan ragu untuk berpindah tim demi peluang juara.
Simbol pergeseran kekuatan
Ducati tidak lagi anggap Yamaha sebagai rival utama di MotoGP bukan hanya sekadar komentar, melainkan simbol pergeseran kekuatan di kelas premier. Pertarungan legendaris masa lalu seperti Rossi vs. Stoner, Lorenzo vs. Dovizioso, atau Quartararo vs. Bagnaia kini tinggal kenangan.
Hari ini, Ducati melaju di jalur juara, Aprilia konsisten meningkat, KTM berpotensi menjadi penantang, dan Honda mulai bangkit dari keterpurukan. Yamaha, ironisnya, tertinggal jauh dari persaingan.
Jika Yamaha gagal memanfaatkan sisa musim ini, risiko yang mereka hadapi semakin besar. Revolusi teknis pada 2027 bisa menjadi peluang baru, tetapi juga bisa menjadi kehancuran total jika transisi tidak dikelola dengan baik. Quartararo mungkin tetap bertahan untuk proyek ini, tetapi kesabarannya tidak tak terbatas.
Pada akhirnya, hilangnya Yamaha dari radar Ducati adalah peringatan serius. Ketika rival utama Anda tidak lagi menganggap Anda ancaman, itu berarti ada sesuatu yang sangat salah dalam strategi jangka panjang.
Bagi Yamaha, ini bukan hanya soal mengembangkan mesin baru, tetapi juga memulihkan identitas mereka sebagai salah satu kekuatan besar MotoGP. Jika tidak, sejarah kejayaan mereka hanya akan dikenang sebagai masa lalu yang tak pernah kembali.

Posting Komentar untuk "Ducati tidak lagi anggap Yamaha sebagai rival utama"