Fabio Quartararo kehabisan kesabaran pada Yamaha

Fabio Quartararo mengatakan akan pindah dari Yamaha jika tim tidak memberinya motor kompetitif untuk bersaing di MotoGP.

Fabio Quartararo kehabisan kesabaran pada Yamaha
Penampakan motor Monster Energy Yamaha milik Fabio Quartararo saat latihan bebas sebelum MotoGP Ceko di Sirkuit Brno pada 18 Juli 2025 di Brno, Republik Ceko. Foto oleh Qian Jun/MB Media
Anna Fadiah Novanka Laras

Fabio Quartararo mengirimkan peringatan keras kepada Yamaha menjelang Grand Prix Malaysia. Juara dunia MotoGP 2021 itu menegaskan bahwa masa depannya bersama tim pabrikan asal Jepang tersebut akan bergantung pada apakah mereka mampu memberinya motor yang cukup kompetitif untuk kembali bersaing memperebutkan gelar dunia. Menurutnya, jika Yamaha gagal menghadirkan paket yang bisa menyaingi Ducati dan Aprilia, maka keputusan untuk pindah tim sudah tak terhindarkan.

Dalam wawancaranya menjelang seri di Sepang, Fabio Quartararo dengan tegas mengatakan, “Jika saya tidak memiliki motor untuk berjuang meraih kemenangan dan podium, tentu saja saya akan pindah.” Ucapan ini menandai puncak dari frustrasinya setelah dua musim yang sulit bersama Yamaha, di mana performa M1 yang stagnan membuatnya kehilangan peluang untuk berada di barisan depan.

Sejak menjuarai dunia pada 2021, nasib Fabio Quartararo di Yamaha terus menurun. Tanpa kemenangan sejak musim 2022, ia berulang kali mengeluh soal kurangnya tenaga mesin dan kesulitan bersaing di lintasan lurus melawan motor-motor V4 dari Ducati, KTM, dan Aprilia. Meski Yamaha sempat menunjukkan sedikit kemajuan di awal musim 2025 dengan beberapa podium dan posisi terdepan, keunggulan tersebut tidak cukup untuk menutup kesenjangan performa.

Di dalam tim Yamaha sendiri, tekanan semakin besar. Fabio Quartararo adalah satu-satunya pembalap yang secara konsisten mampu membawa M1 mendekati barisan depan. Tanpa dirinya, proyek Yamaha di MotoGP berisiko kehilangan arah, terutama setelah beberapa insinyur kunci meninggalkan tim dan situasi teknis makin menantang.

Yamaha saat ini menaruh seluruh fokus pada proyek motor V4 barunya, perubahan besar dari konfigurasi inline-four yang telah menjadi identitas mereka selama dua dekade terakhir. Motor V4 ini diharapkan mampu menyamai karakter mesin rival utama seperti Ducati Desmosedici dan KTM RC16. Namun, hasil uji coba Misano bulan lalu belum memberikan keyakinan penuh kepada Fabio Quartararo.

“Saya tidak terlalu antusias dengan uji coba di Misano,” katanya. “Yamaha bekerja keras dengan motor V4, tetapi saya tidak melihat potensi besar sejauh ini. Tujuan saya tetap sama — berjuang untuk kemenangan, podium, dan kejuaraan. Jika motor tidak mampu memberi saya peluang itu, maka saya harus mencari tempat lain.”

Fabio Quartararo menegaskan bahwa tes MotoGP di Valencia dan Sepang akan menjadi titik krusial dalam menentukan masa depannya. Yamaha memiliki waktu kurang dari dua bulan untuk menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan agar sang pembalap tetap yakin bertahan.

“Menurut saya, Valencia akan menjadi sangat penting,” ujarnya. “Kami hanya punya sekitar dua setengah bulan sebelum tes berikutnya di Sepang, dan dalam waktu sesingkat itu Anda tidak bisa sepenuhnya mengubah basis motor. Kami akan lihat bagaimana hasilnya nanti.”

Tes Valencia biasanya menjadi momen di mana pabrikan menguji prototipe awal untuk musim berikutnya. Jika Yamaha gagal memperlihatkan peningkatan nyata, Fabio Quartararo diperkirakan akan membuka negosiasi dengan pabrikan lain menjelang musim 2027 — tahun di mana pasar pembalap akan bergerak besar-besaran seiring dengan berakhirnya banyak kontrak.

Musim 2027 akan menandai era baru MotoGP dengan diperkenalkannya mesin 850cc dan penggunaan ban Pirelli. Perubahan regulasi besar ini akan menciptakan ketidakpastian bagi seluruh tim dan pembalap. Fabio Quartararo menyadari bahwa keputusan kontraknya kali ini adalah sebuah “perjudian”, namun ia mengaku menikmati tantangan tersebut.

“Saya pikir keputusan kali ini seperti pertaruhan,” katanya. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mesin 850cc dan ban baru nanti. Semuanya akan menjadi kejutan. Tapi saya suka itu. Saya tidak bisa memprediksi masa depan, tapi saya akan melihat siapa yang benar-benar tertarik untuk menang, siapa yang punya motivasi kuat, dan detail kecil itulah yang akan membuat saya menentukan pilihan.”

Pernyataannya menunjukkan bahwa Fabio Quartararo tidak hanya memikirkan gaji atau durasi kontrak, tetapi juga arah pengembangan teknis dan ambisi tim. Ia ingin bergabung dengan pabrikan yang tidak sekadar ingin bertahan di grid, melainkan benar-benar bertekad meraih gelar dunia.

Krisis performa Yamaha bukan hanya soal mesin. Struktur internal tim juga mendapat sorotan. Sejak kepergian kepala proyek Lin Jarvis, pengembangan Yamaha M1 terkesan kehilangan arah yang jelas. Upaya mereka merekrut insinyur dari luar — termasuk dari Ducati — belum membuahkan hasil yang signifikan.

Bagi Yamaha, mempertahankan Fabio Quartararo menjadi prioritas utama. Kehilangannya berarti kehilangan satu-satunya pembalap yang mampu menutupi kelemahan motor dengan gaya balap agresif dan kemampuan luar biasa dalam menjaga kecepatan di tikungan cepat. Tanpa Quartararo, Yamaha berisiko terjebak di papan tengah dan kehilangan daya tarik bagi sponsor maupun penggemar.

Namun, jika Yamaha gagal memberikan kemajuan nyata dalam waktu dekat, kemungkinan besar mereka harus menghadapi kenyataan pahit: Quartararo akan hengkang mencari tantangan baru, mungkin ke pabrikan seperti Aprilia atau bahkan kembali ke Ducati dalam formasi satelit.

Ketegangan akhir musim

Sebagai pembalap muda yang sudah pernah menjadi juara dunia, Fabio Quartararo memiliki ekspektasi tinggi terhadap performanya dan tim. Kesabarannya terhadap Yamaha semakin menipis karena perkembangan yang dijanjikan tidak kunjung terlihat. Di saat para rival seperti Pedro Acosta, Marc Marquez, dan Marco Bezzecchi secara konsisten berjuang untuk kemenangan, Quartararo terjebak dalam situasi stagnan di posisi lima besar.

Mesin inline-four Yamaha terkenal lembut dan stabil di tikungan, tetapi kekurangan tenaga di trek lurus membuat M1 kesulitan menyalip. Quartararo telah berulang kali meminta peningkatan akselerasi dan efisiensi aerodinamika, namun tim baru merespons secara signifikan pada pertengahan 2025.

Masalah lain adalah kurangnya data pengembangan. Dengan hanya dua pembalap di tim pabrikan, Yamaha kekurangan informasi dibanding tim seperti Ducati yang memiliki delapan motor di lintasan. Hal ini memperlambat kemajuan teknis dan menghambat pengambilan keputusan.

Quartararo hadiri sesi media jelang MotoGP Malaysia
Fabio Quartararo dalam sesi media pra-acara Grand Prix Petronas Malaysia pada 23 Oktober 2025 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia. Foto oleh Hazrin Yeob Men Shah/Icon Sportswire

Menjelang seri-seri terakhir musim 2025, situasi di dalam garasi Yamaha dipenuhi ketegangan. Fabio Quartararo tahu bahwa setiap balapan sekarang menjadi penilaian bagi masa depannya. Sementara itu, Yamaha mencoba menyeimbangkan antara menjaga moral tim dan mempercepat proyek V4 mereka.

“Tujuan saya tetap sama — menang dan bersaing di puncak,” ujar Quartararo. “Jika saya tidak punya sepeda untuk itu, maka saya harus membuat keputusan yang berbeda.”

Bagi penggemar MotoGP, musim ini mungkin menjadi momen krusial dalam karier Fabio Quartararo. Apakah ia akan bertahan bersama Yamaha dan membantu membangun proyek V4 hingga siap bersaing? Atau justru memilih jalan baru demi kembali ke jalur kemenangan?

Jawabannya kemungkinan besar akan ditentukan pada tes Valencia dan Sepang — dua momen di mana masa depan pembalap Prancis itu bisa berubah selamanya.

Posting Komentar untuk "Fabio Quartararo kehabisan kesabaran pada Yamaha"