Augusto Fernandez nilai motor Yamaha V4 butuh perubahan besar

Pembalap penguji Yamaha, Augusto Fernandez, menilai prototipe V4 milik tim masih belum mampu menyaingi mesin Inline dan rival V4 lain.

Augusto Fernandez nilai motor Yamaha V4 butuh perubahan besar
Pembalap Spanyol, Augusto Fernandez, lemas bersandar di garasi tim pabrikan Yamaha selama sesi latihan bebas pertama MotoGP Malaysia di Sirkuit Internasional Sepang, Sepang, pada 24 Oktober 2025. Foto oleh Lillian Suwanrumpha/AFP
Anna Fadiah Novanka Laras

Augusto Fernandez di MotoGP Malaysia menjadi ajang refleksi bagi Yamaha setelah akhir pekan yang berat di Sepang. Pembalap penguji asal Spanyol itu secara terbuka mengakui bahwa motor prototipe V4 Yamaha masih jauh dari harapan. Ia menyebut tim membutuhkan “sesuatu yang lain” untuk bisa bersaing di level tertinggi.

Fernandez, yang tampil sebagai wild card untuk kedua kalinya setelah debut di Misano, menunjukkan sedikit peningkatan namun masih tertinggal dari para rival. Dengan selisih +25,412 detik di Sprint dan +47,060 detik di balapan utama, performanya memperlihatkan betapa besar tantangan Yamaha dalam menyesuaikan diri dengan era baru mesin V4.

“Ini akhir pekan yang sulit bagi kami,” kata Fernandez seusai balapan. “Kami memulai akhir pekan lebih buruk dibandingkan di Misano, dan sekarang rasanya kami harus menemukan kembali dasar yang kami butuhkan untuk membuat kemajuan.”

Meski Yamaha telah beralih ke konsep mesin V4 untuk mengejar kekuatan dan kecepatan yang dimiliki Ducati, KTM, dan Aprilia, hasil di Sepang menunjukkan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Mesin prototipe Yamaha belum mencapai tenaga penuh dan tetap menjadi yang terbawah dalam catatan kecepatan puncak.

V4 milik Fernandez mencatat kecepatan tertinggi 329,2 km/jam, jauh di bawah 341,7 km/jam yang diraih Pedro Acosta dari KTM. Bahkan motor Inline4 Yamaha yang lama masih lebih cepat, dengan Fabio Quartararo mencatat 333,3 km/jam dan Jack Miller 336,4 km/jam.

Selisih ini menunjukkan bahwa Yamaha masih berjuang bukan hanya dalam hal kecepatan, tetapi juga efisiensi tenaga dan traksi. Mesin baru tersebut diharapkan menjadi tonggak kebangkitan tim, namun sejauh ini performanya belum memberikan hasil yang signifikan.

Ketika Fernandez melakukan debut di Misano bulan September lalu, performanya juga tertinggal jauh dengan selisih +27,893 detik di Sprint dan +61,504 detik di Grand Prix. Dua bulan kemudian di Malaysia, selisih tersebut sedikit berkurang, namun tidak cukup untuk menunjukkan lompatan besar dalam pengembangan.

Defisit terhadap pembalap Yamaha lainnya juga tetap lebar. Dalam Sprint 10 lap di Sepang, Fernandez tertinggal 7,7 detik dari Alex Rins—pengguna M1 dengan mesin Inline. Dalam balapan utama, jarak dengan Jack Miller bahkan mencapai 21,9 detik.

“Hal positifnya adalah kami berhasil kembali ke titik yang sama dengan saat kami menyelesaikan balapan di Misano,” jelas Fernandez. “Kami masih mengalami kesulitan di area yang sama, tapi setidaknya sekarang kami tahu arah mana yang harus diambil.”

Komentar ini menegaskan bahwa Yamaha mulai memahami masalah fundamental dari proyek V4 mereka, namun belum menemukan solusi nyata untuk memperbaikinya.

Meski tetap tenang dalam menyampaikan pendapatnya, Fernandez tak menutupi kekecewaannya terhadap kecepatan perkembangan Yamaha. Menurutnya, tim sudah bekerja keras dengan sumber daya yang ada, namun batas teknis motor saat ini menghambat potensi mereka.

“Kami sudah melakukan semua yang kami bisa dengan apa yang kami miliki,” ujarnya. “Sekarang kami butuh bagian baru, kami butuh sesuatu yang lain. Kami membutuhkan insinyur untuk membawa hal-hal baru dan mengikuti arah yang telah kami temukan.”

Ungkapan “sesuatu yang lain” ini menjadi kritik tajam terhadap Yamaha. Bagi Fernandez, konsep V4 memang menjanjikan, tetapi implementasinya belum mampu menghasilkan performa yang stabil. Di level MotoGP, kekuatan mesin saja tidak cukup—motor juga membutuhkan karakteristik yang seimbang antara tenaga, kelincahan, dan traksi.

Michele Pirro mengejar Augusto Fernandez di Sepang
Augusto Fernandez dari Yamaha Factory Racing dibuntuti Michele Pirro dari Ducati Lenovo Team selama sesi Sprint di Sirkuit Sepang pada 25 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto oleh Mirco Lazzari/Getty Images

Di lintasan, Fernandez harus berjuang keras di papan bawah klasemen. Setelah start dari posisi ke-23, ia sempat bersaing dengan pembalap uji Ducati, Michele Pirro. Dalam pertarungan antar pembalap penguji ini, Pirro berhasil menyalip Fernandez di lap terakhir, menegaskan bahwa Yamaha masih kalah dalam hal efisiensi tenaga dan stabilitas.

Kekalahan dari Pirro, yang mengendarai motor uji Ducati Desmosedici, menambah daftar panjang pekerjaan rumah Yamaha. Ducati telah menjadi tolok ukur pengembangan mesin V4 sejak 2015, sementara Yamaha baru memulai transisi ini di penghujung 2024. Perbedaan pengalaman dan data tentu menjadi faktor besar.

Yamaha mengambil langkah berani dengan meninggalkan konfigurasi Inline4 yang telah menjadi ciri khas mereka selama dua dekade. Langkah ini diambil setelah performa motor mereka terus tertinggal di lintasan lurus, di mana tenaga V4 rival lebih dominan.

Namun, perubahan besar ini tidak serta-merta menghadirkan hasil instan. Dalam dua penampilan wild card, Fernandez membuktikan bahwa motor V4 Yamaha masih dalam tahap awal pengembangan.

“Dari sisi kestabilan dan akselerasi, kami masih tertinggal jauh,” kata Fernandez. “Motor ini memiliki potensi, tapi kami butuh waktu dan inovasi untuk mencapai level Ducati dan KTM.”

Dengan catatan kecepatan tertinggi yang masih rendah dan kesulitan menjaga cengkeraman ban, Yamaha harus bekerja keras di area elektronik dan distribusi tenaga.

Yamaha butuh revolusi, bukan evolusi

Meski kecewa dengan hasil di Malaysia, Fernandez menganggap akhir pekan ini penting untuk memahami batas motor. Ia menilai data dari Sepang akan sangat berharga menjelang uji coba terakhir musim ini di Valencia.

“Hal positif dari akhir pekan ini adalah kami punya arah yang jelas untuk diikuti,” katanya. “Kami tahu di mana letak kekurangannya, dan sekarang tergantung pada insinyur untuk membawa solusi.”

Uji coba di Valencia diperkirakan menjadi momen penting bagi Yamaha. Setelah dua kali turun dengan performa terbatas, mereka diharapkan membawa pembaruan signifikan, terutama dalam sistem tenaga dan aerodinamika.

Augusto Fernandez uji coba motor Yamaha V4 di Sepang
Augusto Fernandez melewati tikungan saat latihan bebas MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang pada 24 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto oleh Mirco Lazzari/Getty Images

Situasi Yamaha saat ini menggambarkan fase sulit transisi teknologi. Setelah bertahun-tahun bergantung pada filosofi mesin Inline, mereka kini mencoba mengejar ketertinggalan dengan mengadopsi arsitektur V4—namun tanpa pengalaman mendalam dalam pengembangannya.

Kritik Augusto Fernandez di MotoGP Malaysia menyoroti inti masalah tersebut. Tim memang memiliki arah teknis, tetapi kurang cepat dalam menerjemahkannya ke hasil nyata di lintasan. Dalam dunia MotoGP yang bergerak cepat, setahun keterlambatan bisa berarti tertinggal jauh.

Dengan Ducati, KTM, dan Aprilia terus mendorong batas teknologi, Yamaha harus mengambil langkah radikal untuk kembali kompetitif. Mereka tidak hanya butuh “sesuatu yang lain” seperti kata Fernandez, tapi juga visi baru dalam strategi pengembangan mesin.

Posting Komentar untuk "Augusto Fernandez nilai motor Yamaha V4 butuh perubahan besar"