Fasisme dalam 'Wicked: For Good' menjadi tema tersembunyi

Film Wicked: For Good menawarkan tontonan magis, tetapi menyembunyikan kritik kelam tentang kekuasaan dan penindasan.

Fasisme dalam 'Wicked: For Good' menjadi tema tersembunyi
Cynthia Erivo sebagai Elphaba dan Ariana Grande sebagai Glinda dalam “Wicked: For Good.” Foto oleh Giles Keyte/Universal Pictures
Anna Fadiah Novanka Laras

Fasisme dalam Wicked: For Good mungkin tidak langsung terlihat oleh penonton umum yang hadir untuk menyaksikan musikal fantasi dengan sihir, warna, dan drama persahabatan antara Elphaba dan Glinda. Namun, semakin film berjalan, semakin jelas bahwa Wicked bukan sekadar dongeng musikal yang penuh visual memukau. Fasisme dalam Wicked: For Good bekerja seperti ideologi yang sering muncul dalam sejarah: perlahan, halus, dan bersembunyi di balik pertunjukan, norma sosial, dan institusi yang tampaknya tidak berbahaya. Film ini, baik secara sadar maupun tidak, memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat memanipulasi narasi publik sembari mengikis hak dan martabat kelompok tertentu.

Wicked: For Good diarahkan Jon M. Chu sebagai lanjutan dari bagian pertama, memperlihatkan dua tokoh utama yang kini telah memasuki dunia dewasa. Elphaba, dengan kulit hijaunya yang mencolok, berjuang antara menjadi simbol harapan atau ancaman bagi masyarakat. Sementara itu, Glinda tampil sebagai figur selebritas politik, dipenuhi sorotan, pujian, dan identitas publik yang lebih dibentuk oleh propaganda daripada keaslian. Di titik inilah fasisme dalam Wicked: For Good mengambil bentuk: manipulasi citra, demonisasi kelompok berbeda, dan pemberhalaan pemimpin.

Salah satu aspek menarik tentang fasisme dalam Wicked: For Good adalah bagaimana film ini memvisualisasikan transisi kekuasaan. Negeri Oz, yang dulu tampak sebagai tempat penuh keajaiban dan optimisme, kini berubah menjadi sistem yang terstruktur secara hierarkis dengan propaganda, senjata simbolik, dan struktur militer jelas. Monyet terbang tidak lagi sekadar makhluk fantasi lucu atau aneh—mereka menjadi alat pengawasan udara, sama seperti drone militer modern. Keputusan ini bukan hanya estetika visual, tetapi simbol ideologis: kekuasaan menggunakan ketakutan untuk menertibkan.

Dalam tradisi fasisme, bukan hanya musuh eksternal yang diciptakan, tetapi musuh internal. Dalam Wicked: For Good, hewan-hewan yang dapat berbicara menjadi target represi sistematis. Bahasa mereka dibungkam, kebebasan mereka dicabut, dan keberadaan mereka dijadikan alasan pembenaran kontrol negara. Ketika hukum diberi wajah propaganda, represi sering kali dibungkus dengan label “demi keamanan”.

Wicked: For Good tidak hanya membahas fasisme sebagai struktur politik, tetapi juga sebagai sesuatu yang menyentuh psikologi dan relasi manusia. Fokus pada persahabatan antara Elphaba dan Glinda menjadi fondasi emosional dari film ini. Persahabatan itu diuji oleh propaganda, kekuasaan, kepentingan politik, dan identitas sosial. Fasisme dalam Wicked: For Good tidak hanya membungkam kelompok minoritas seperti hewan berbicara—tetapi juga merusak kemampuan individu untuk percaya satu sama lain.

Di bagian film yang lebih intim, Glinda akhirnya mulai memahami bahwa ia bukan hanya penonton dalam sistem represif yang berkembang, tetapi bagian dari mekanismenya. Momen refleksi itu penting karena menunjukkan bagaimana propaganda fasis tidak hanya mempengaruhi orang jahat, tetapi juga orang baik yang ingin terlihat baik dan diterima. Ketika kekuasaan menawarkan validasi, popularitas, dan status, banyak yang patuh—bukan karena kebencian, tetapi karena rasa aman dalam sistem.

Transformasi Glinda inilah yang menjadi salah satu kekuatan naratif film. Ariana Grande, melalui gestur yang lembut, menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu lahir dari sikap heroik dramatis, tetapi bisa muncul dari rasa bersalah, kesadaran moral, dan kemanusiaan.

Wicked: For Good membalut tema ini dalam visual spektakuler—gaun mengilap, cahaya zamrud, pawai megah, lagu yang penuh harmoni. Namun harmoni itu tidak netral. Ia digunakan sebagai alat membentuk realitas. Permukaan yang memesona menyembunyikan kekosongan moral dan kontrol sosial. Dalam dunia fasis, estetika bukan sekadar dekorasi—tetapi strategi.

Dengan demikian, Wicked: For Good memperlihatkan kontradiksi penting: sistem represif tidak selalu tampak gelap atau brutal; terkadang mereka indah, penuh selebrasi, dan menghibur. Justru di sinilah bahayanya.

Kehadiran karakter Fiyero dan kisah romansa yang menyertainya seolah menjadi selingan dari tema gelap politik yang menguasai film. Namun romansa ini bekerja dalam konteks yang lebih luas: menunjukkan bagaimana kehidupan personal tidak dapat terpisah dari struktur sosial dan politik. Bahkan cinta—sesuatu yang paling personal—dalam fasisme bisa dipolitisasi. Dalam narasi Wicked: For Good, hubungan Elphaba dan Fiyero bukan hanya kisah cinta, tetapi penegasan identitas melawan narasi publik yang memfitnah Elphaba.

Warisan dongeng, realitas modern

Karya L. Frank Baum telah lama dikaji dalam konteks politik dan ekonomi, tetapi Wicked: For Good membawa pembacaan itu ke tingkat baru. Alih-alih sekadar kisah petualangan, film ini mengajak penonton memikirkan bagaimana kekuasaan dapat membentuk cerita yang kita percayai. Narasi resmi menjadi senjata. Mereka yang mengendalikan cerita mengendalikan kebenaran.

Karena itu, fasisme dalam Wicked: For Good bukan alegori tunggal, tetapi struktur reflektif bagi penonton. Film ini tidak menunjuk negara tertentu, tetapi menciptakan ruang simbolik untuk bertanya:

Siapa yang menentukan siapa yang baik dan siapa yang jahat? Siapa yang berhak bicara? Dan siapa yang dihapus dari sejarah?

Pada akhirnya, Wicked: For Good menjadi lebih dari sekadar musikal. Ia menjadi seruan halus untuk mengingat bahwa kebebasan dapat hilang bukan melalui perang besar, tetapi melalui tepuk tangan panjang yang mengiringi reputasi palsu, estetika indah, dan kebenaran yang dipelintir.

Dan pertanyaan paling penting yang tersisa adalah: Jika fasisme bisa muncul di Oz, dunia fantasi yang penuh warna—apa yang membuat kita berpikir dunia nyata kebal?

Posting Komentar untuk "Fasisme dalam 'Wicked: For Good' menjadi tema tersembunyi"