Ariana Grande menjadi jantung emosional 'Wicked: For Good'

Wicked: For Good adalah film Ariana Grande yang mencoba menawarkan versi lebih gelap, emosional, dan intim.

Ariana Grande menjadi jantung emosional 'Wicked: For Good'
Ariana Grande sebagai Glinda dalam “Wicked: For Good.” Foto oleh Giles Keyte/Universal Pictures
Anna Fadiah Novanka Laras

Wicked: For Good adalah film Ariana Grande, dan film ini sangat sadar akan hal itu. Setiap adegan terasa dirancang untuk menonjolkan pesona sang penyanyi, baik dalam visual, penokohan, maupun penempatan emosinya dalam alur. Setelah Wicked pertama berfokus pada Elphaba—diperankan Cynthia Erivo—sebagai tokoh terbuang yang akhirnya dicap sebagai Penyihir Jahat dari Barat, Wicked: For Good mengalihkan pusat orbit ke karakter Glinda. Ariana Grande memerankan Glinda bukan hanya sebagai sahabat dan lawan main Elphaba, tetapi sebagai simbol propaganda rezim yang menggunakan citranya untuk menenangkan publik, sementara dunia Oz perlahan jatuh ke tirani.

Bagi banyak penonton yang menyaksikan musikal panggungnya, pertanyaan besarnya sejak awal adalah: bisakah cerita yang utuh dibelah menjadi dua film tanpa kehilangan roh narasinya? Jawabannya bukan sederhana. Wicked: For Good berjalan lebih ringan, lebih cepat, tetapi juga lebih terfragmentasi. Kohesi film ini sangat bergantung pada memori penonton terhadap film pertama, serta referensi kuat ke The Wizard of Oz versi 1939—hadir melalui kilasan Dorothy Gale dan bayangan petualangannya. Namun yang mengejutkan adalah: sutradara Jon M. Chu berhasil membuatnya tetap terasa utuh.

Pada akhirnya, Wicked: For Good terasa sebagai langkah mundur dalam skala tontonan, tetapi langkah maju dalam hal emosi dan kedalaman. Penonton bioskop terdengar terisak di akhir pemutaran—dan itu bukan kebetulan, melainkan strategi bercerita yang disengaja.

Yang membuat Wicked: For Good menarik adalah bagaimana Ariana Grande diposisikan sebagai pusat emosinya. Di film pertama, ia lebih seperti pelengkap ringan bagi Erivo. Di sini, ia menjadi narasi utama: tubuhnya, ekspresinya, bahkan kebiasaannya yang sangat mudah dikenali publik—dagu terangkat, pose elegan, gestur rapi—semua menjadi bagian dari perjalanan batin Glinda.

Glinda kini bukan hanya gadis manis penuh glitter. Ia adalah simbol politik. Rezim Oz memanfaatkannya sebagai wajah propaganda, bersama Jeff Goldblum sebagai Penyihir pengecut dan Michelle Yeoh sebagai Madame Morrible. Grande memerankannya sebagai figur yang mulai memahami harga dari penerimaan sosial, sekaligus menanggung luka kesadaran moral.

Hubungan Glinda dan Elphaba menjadi inti emosional film, bukan romansa. Cinta mereka terhadap karakter Jonathan Bailey, Kapten Fiyero, hadir sebagai subplot—namun kimianya lemah, dan mungkinkah itu sengaja? Film ini tampaknya ingin mengatakan: persahabatan perempuan lebih besar daripada cinta segitiga klasik Hollywood.

Wicked: For Good adalah film Ariana Grande, tetapi Cynthia Erivo tetap menjadi penyeimbang dan gravitasi moral cerita. Di mulai film, Elphaba sudah menjadi legenda: mural propagandanya tersebar di seluruh Oz, toko menjual merchandise dirinya, dan namanya menjadi perdebatan publik. Namun meski ia kini simbol perlawanan, penderitaan personalnya tetap terasa.

Erivo kembali menampilkan performa rapuh namun kuat. Namun fokus film tidak lagi memberi ruang besar pada transformasinya—yang sudah kita lihat di film pertama. Kali ini ia adalah figur perlawanan, bukan perjalanan introspektif. Dalam banyak adegan, film lebih memilih menunjukkan dampak keberadaannya, bukan membedah jiwanya seperti sebelumnya.

Wicked: For Good adalah film Ariana Grande yang membawa tonalitas baru dibanding film sebelumnya—lebih suram, lebih politis, dan lebih intim. Transformasi karakter pendukung menjadi ikon Wizard of Oz—Tin Man, Scarecrow, dan makhluk lainnya—disajikan dalam tone horor ringan. Ethan Slater sebagai Boq menjadi salah satu adegan paling mengganggu, memperlihatkan bagaimana rasa sakit emosional bisa berubah menjadi identitas baru.

Namun adaptasi ini tetap tidak sepenuhnya menjelaskan dunia Oz. Banyak visual epik, parade kostum, hingga desain set skala besar, tetapi warga dunia ini terasa seperti figuran naratif, bukan bagian dari ekosistem sosial yang hidup.

Seperti karya Wicked sebelumnya, film ini sarat metafora. Novel tahun 1995 terinspirasi Perang Teluk, dan panggung 2003 lahir setelah 9/11. Kini adaptasinya hadir di era sensor digital, propaganda media, dan polarisasi demokrasi. Ketika film menampilkan hewan yang kehilangan hak bicara dan masyarakat terbagi melalui kebijakan represif, resonansi kontemporernya tidak dapat diabaikan.

Namun metafora besar ini juga berisiko menjadi terlalu eksplisit sehingga kehilangan ketajaman. Film mencoba menjaga jarak antara alegori dan kisah personal, dan pada titik tertentu berhasil—meski tidak selalu konsisten.

Musik: lebih kecil, lebih personal

Menariknya, Wicked: For Good tidak mencoba melampaui skala musikal Broadway. Musik tidak lagi tentang spektakel, tetapi tentang emosi. Pilihan ini mungkin mengecewakan penonton yang menghendaki tontonan megah, namun justru memberi ruang pada narasi karakter.

Grande dan Erivo bukan diva eksplosif, tetapi penyanyi balada yang kuat secara emosional. Mereka bernyanyi bukan untuk menunjukkan kekuatan vokal, tetapi untuk memperlihatkan retak, kehilangan, dan perubahan.

Wicked: For Good adalah film Ariana Grande yang berusaha menjadi lebih dari sekadar adaptasi panggung—ia adalah reinterpretasi emosional. Film ini gelap, intim, dan terkadang lebih fokus pada perasaan daripada cerita. Namun justru di situlah kekuatannya.

Ia bukan film yang sempurna—aspek pacing, kedalaman dunia, dan distribusi fokus karakter tetap bermasalah. Namun ia memberi penonton sesuatu yang jarang muncul di film musikal besar: ruang untuk merasa.

Dan untuk banyak orang, itu sudah cukup.

Posting Komentar untuk "Ariana Grande menjadi jantung emosional 'Wicked: For Good'"