Marc Marquez berburu rekor di Mandalika
Marquez ingin menaklukkan sirkuit Mandalika sekaligus mengejar rekor kemenangan ke-100 MotoGP.
![]() |
| Marc Marquez dari Spanyol, yang menunggangi Ducati Lenovo (93), melaju pada sesi latihan bebas di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok, pada 3 Oktober 2025. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images |
Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika menjadi panggung istimewa. Marc Marquez juara dunia MotoGP 2025 datang sebagai pembalap yang baru saja dimahkotai setelah tiga tahun penuh perjuangan dan kesulitan akibat cedera. Kemenangan gelar yang diraih di Jepang menjadi momen penting, sekaligus menegaskan kembalinya dominasi sang bintang. Untuk pertama kalinya sejak 2019, gelar juara dunia MotoGP sudah dipastikan jauh sebelum musim berakhir, tetapi cerita di sisa putaran masih penuh intrik.
Marquez, yang kini telah mengoleksi tujuh gelar juara MotoGP, memasuki Mandalika dengan semangat baru. Ia tahu bahwa sirkuit ini menyimpan arti khusus karena belum pernah dimenanginya. Mandalika menjadi salah satu dari dua trek yang belum ditaklukkannya sepanjang karier. Jika berhasil menang, ia akan meraih kemenangan ke-100 di ajang Grand Prix, termasuk 74 di kelas utama. Tambahan kemenangan ini juga akan membuatnya menyamai catatan Valentino Rossi dalam hal jumlah sirkuit berbeda yang dimenangkan, yakni 23, serta mendekati rekor absolut sepanjang sejarah MotoGP.
Ambisi Marc Marquez juara dunia MotoGP 2025 tidak hanya berhenti pada gelar dunia. Ia masih berpeluang memperbaiki rekor pribadinya, yaitu 13 kemenangan dalam satu musim. Musim ini, performa Ducati Lenovo menunjukkan keunggulan yang sulit ditandingi, dan Marquez memanfaatkannya dengan konsistensi serta determinasi luar biasa.
Dominasi Marquez juga berimbas pada tiga mahkota Ducati: pembalap, pabrikan, dan tim. Dengan performa yang hampir sempurna, Ducati tampak berada di jalur untuk menutup musim dengan hasil gemilang. Bagi Marquez, Mandalika bukan hanya ajang pembuktian, melainkan juga panggung untuk mempertegas statusnya sebagai legenda hidup MotoGP.
Sementara itu, Francesco Bagnaia kembali menemukan momentumnya di Jepang. Setelah lama tenggelam di bawah bayang-bayang Marquez, Bagnaia bangkit dengan strategi teknis yang berani. Modifikasi pada garpu, lengan ayun, hingga perangkat penyeimbang membuat Ducati miliknya semakin stabil. Hasilnya, Bagnaia sukses meraih pole, sprint, dan kemenangan di Motegi.
Kebangkitan Bagnaia memberi warna baru pada sisa musim. Bebas dari tekanan perebutan gelar dunia, ia bisa tampil lebih lepas. Potensi duel antara Bagnaia dan Marquez di Mandalika menjadi sorotan utama. Keduanya kini berada pada level yang tinggi, dan pertarungan mereka berpotensi menghadirkan duel murni tanpa kalkulasi poin—sebuah tontonan yang akan menggemparkan dan mungkin membuka jalan menuju rivalitas sengit di tahun 2026.
Pecco Bagnaia masih punya motivasi lain: mengejar posisi kedua klasemen dari Alex Marquez. Saat ini, jarak antara keduanya adalah 66 poin. Alex, yang sempat tampil luar biasa di awal musim, kehilangan ritme setelah kecelakaan di Assen yang menyebabkan patah tangan dan mundur di Brno. Kesalahan-kesalahan ini membuka peluang bagi Marquez senior untuk mengunci gelar, sekaligus memberi kesempatan bagi Bagnaia untuk mendekat di klasemen.
Meski begitu, Alex Marquez tetap menjaga fokus. Menurutnya, Bagnaia dan Ducati dalam kondisi prima, dan mempertahankan posisi kedua bukanlah tugas yang mudah. Namun, ia bertekad tampil konsisten demi menjaga kehormatan tim Gresini. Duel internal ini menambah ketegangan di luar perebutan gelar dunia.
Selain Ducati, perhatian juga tertuju pada Aprilia dan Marco Bezzecchi. Setelah sempat menjadi satu-satunya penantang serius bagi Marquez, Bezzecchi harus merelakan posisi setelah akhir pekan yang buruk di Jepang. Kini, ia tertinggal 32 poin dari Bagnaia.
Namun, Aprilia dengan RS-GP tetap punya potensi besar. Mereka ingin menutup musim dengan cara yang positif untuk mempersiapkan musim 2026. Meski peluang gelar sudah hilang, kemenangan di Mandalika akan menjadi modal penting untuk mengembalikan kepercayaan diri tim dan pembalapnya.
KTM menghadapi tantangan besar. Tiga tahun tanpa kemenangan terasa berat, meski Pedro Acosta menunjukkan bakat luar biasa di beberapa seri. Tim Austria itu kini berupaya keras menemukan solusi untuk bisa kembali bersaing di papan atas.
Yamaha pun berada dalam kondisi serupa. Mereka belum pernah menang sejak 2022. Fabio Quartararo tetap menjadi tumpuan utama, sering kali membawa M1 melampaui batasnya. Sekalipun hasil podium sudah jarang, semangat Quartararo membuktikan bahwa Yamaha masih punya daya juang untuk mempertahankan reputasinya.
Kedua pabrikan ini memiliki tujuan yang sama di Mandalika: menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Mereka ingin mengakhiri musim dengan catatan positif agar musim dingin bisa dimulai dengan keyakinan baru.
Mandalika sebagai panggung terakhir Asia
Grand Prix Indonesia di Mandalika menjadi seri penting menjelang akhir musim. Meskipun gelar dunia sudah ditentukan lewat Marc Marquez juara dunia MotoGP 2025, perebutan posisi kedua, ambisi rekor, dan kebangkitan tim lain membuat balapan ini tetap sarat drama.
Mandalika sendiri memiliki reputasi sebagai sirkuit yang menuntut fisik dan konsentrasi tinggi. Panasnya cuaca, permukaan aspal yang menantang, serta atmosfer penuh energi dari penggemar Indonesia menjadikan balapan ini lebih dari sekadar adu cepat. Bagi Marquez, kemenangan di Mandalika bukan hanya soal catatan sejarah, melainkan juga tentang menunjukkan bahwa dominasinya belum berakhir.

Posting Komentar untuk "Marc Marquez berburu rekor di Mandalika"