Luca Marini desak revisi format kualifikasi MotoGP
Luca Marini menilai sistem kualifikasi MotoGP merugikan pembalap yang gagal ke Q2 dan mengusulkan lebih banyak pembalap bisa lolos dari Q1.
![]() |
| Luca Marini berdiskusi dengan tim di garasi Honda HRC Castrol selama balapan MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang pada 26 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images |
Luca Marini desak revisi format kualifikasi MotoGP setelah menilai sistem Q1 dan Q2 saat ini memberi kerugian besar bagi pembalap yang gagal menembus sepuluh besar di sesi latihan Jumat. Menurutnya, dengan level kompetisi yang semakin ketat, perbedaan kecil di satu sesi bisa menentukan seluruh akhir pekan, dan sistem saat ini tidak memberikan ruang yang cukup bagi pembalap untuk menebus kesalahan.
Pembalap Honda tersebut mengungkapkan kepada GPone bahwa MotoGP seharusnya mempertimbangkan revisi format kualifikasi agar lebih adil bagi semua peserta. “Dengan level MotoGP saat ini, tidak lolos ke Q2 adalah hambatan besar,” ujar Marini. “Akan menyenangkan jika kita bisa menegosiasikan ulang format dengan semua tim dan pembalap.”
Marini menjelaskan bahwa insiden kecil seperti kecelakaan atau bendera kuning bisa membatalkan satu putaran terbaik dan langsung menggagalkan peluang masuk Q2, yang berimbas besar pada hasil akhir pekan karena posisi grid yang buruk akan berlaku di Sprint dan Grand Prix. “Sekarang ada dua start, jadi kualifikasi menjadi lebih penting,” tambahnya.
Format kualifikasi MotoGP saat ini terdiri dari dua tahap: Q1 dan Q2. Sepuluh pembalap tercepat dari latihan Jumat otomatis lolos ke Q2, sementara sisanya harus bersaing di Q1 pada Sabtu pagi untuk merebut dua posisi tersisa. Pembalap yang gagal di Q1 otomatis start dari posisi ke-13 ke bawah, dan posisi itu berlaku untuk dua balapan akhir pekan, Sprint dan Grand Prix.
Marini menilai sistem ini tidak seimbang karena menghukum pembalap dua kali. “Kalau Anda mengalami masalah teknis, kecelakaan, atau bendera kuning, seluruh akhir pekan bisa berantakan,” katanya. “Padahal bisa jadi kecepatan Anda cukup bagus untuk bersaing di depan.”
Menurutnya, sistem seperti ini juga membuat kualifikasi menjadi terlalu krusial dalam menentukan hasil, bahkan lebih dari performa di balapan utama. “MotoGP sekarang sangat kompetitif. Jarak antar pembalap bisa hanya sepersepuluh detik, tapi bedanya sangat besar di hasil akhir,” jelasnya.
Luca Marini mengusulkan agar MotoGP meniru format yang digunakan di Moto2 dan Moto3, di mana empat pembalap teratas di Q1 bisa maju ke Q2, bukan hanya dua seperti saat ini. “Akan lebih baik jika jumlah pembalap yang lolos dari Q1 ke Q2 ditingkatkan,” ujarnya. “Kalau ada pembalap di Q1 yang punya kecepatan untuk memenangkan balapan, mereka harus punya peluang lebih besar.”
Format seperti ini dinilai lebih adil karena membuka kesempatan bagi pembalap yang mungkin gagal tampil maksimal di sesi latihan tetapi memiliki kecepatan balapan yang kuat. Marini menambahkan bahwa MotoGP seharusnya menyesuaikan diri dengan realitas kompetisi modern, di mana performa motor dan kondisi trek bisa berubah drastis antar sesi.
Di kelas Moto2 dan Moto3, empat pembalap dari Q1 bisa maju ke Q2, membuat total 18 pembalap bersaing untuk posisi terdepan. Sementara di MotoGP, hanya 12 pembalap di Q2 yang bisa berjuang untuk pole position, membuat margin kesalahan sangat kecil bagi peserta Q1.
Sistem Q1-Q2 juga mempengaruhi strategi tim sepanjang akhir pekan. Pembalap yang gagal masuk Q2 pada hari Jumat otomatis harus menghabiskan energi ekstra di Q1 dan tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan setelan motor untuk balapan. Ini memberi keuntungan besar bagi pembalap yang sudah aman di Q2 sejak awal.
Marini sendiri mengalami hal tersebut di Sepang, di mana ia start dari posisi ke-13 dan mengakui bahwa posisi tersebut menjadi tantangan besar. “Memulai dari posisi ke-13 membutuhkan keajaiban di tikungan pertama,” ucapnya. “Dengan kecepatan seperti sekarang, sulit sekali untuk menyalip tanpa mengambil risiko besar.”
Beberapa contoh comeback luar biasa musim ini semuanya datang dari pembalap yang memulai dari Q2. Marco Bezzecchi menang dari posisi ke-10 di Silverstone, Francesco Bagnaia finis kedua dari posisi ke-11 di Qatar, Fabio di Giannantonio naik dari posisi ke-10 ke posisi ke-2 di Phillip Island, dan Enea Bastianini meraih podium di Brno dari posisi ke-11. Sementara itu, pembalap dari Q1 hampir tak pernah berhasil menembus podium.
Marini mengakui bahwa Honda juga memiliki masalah tersendiri dalam memanfaatkan ban belakang untuk kualifikasi. “Yang lain bisa memaksimalkan potensi ban belakang dalam satu putaran. Cengkeraman mereka lebih kuat,” katanya.
Menurut Marini, hal ini membuat Honda sulit bersaing di Q2 karena kehilangan waktu penting di sektor pertama dan terakhir. “Kami harus memahami ini karena Yamaha, yang biasanya lebih lambat dari kami di balapan, bisa menemukan potensi yang bagus di kualifikasi. KTM kadang kesulitan di race tapi luar biasa di kualifikasi, sedangkan Ducati dan Aprilia lebih seimbang,” ujarnya.
Masalah ini juga membuat performa Marini di Sprint dan Grand Prix tidak konsisten. Ia menegaskan bahwa peningkatan dalam “time attack” menjadi kunci agar semua pembalap Honda bisa start lebih depan dan memiliki peluang lebih besar meraih podium.
Usulan realistis untuk format baru
Beberapa pengamat menilai usulan Luca Marini masuk akal dan bisa meningkatkan daya saing MotoGP. Dengan menambah jumlah pembalap yang lolos dari Q1, kemungkinan tim papan tengah dan pembalap satelit untuk tampil di baris depan juga meningkat.
Namun, perubahan ini juga memerlukan kesepakatan antara Dorna Sports, IRTA, dan seluruh pabrikan. Format kualifikasi MotoGP dirancang untuk menyeimbangkan waktu siaran dan efisiensi lintasan, sehingga setiap perubahan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap jadwal dan regulasi teknis.
Marini menegaskan bahwa ia tidak meminta perubahan besar-besaran, hanya penyesuaian kecil yang bisa membuat kompetisi lebih adil. “Tidak perlu mengubah sistem sepenuhnya,” katanya. “Cukup dengan menambah dua tempat lagi untuk pembalap Q1, dan itu bisa membuat perbedaan besar bagi kami.”
Meski mengalami kecelakaan di Sprint Malaysia saat mencoba menyalip Pol Espargaro, Marini tetap menunjukkan semangat tinggi. Ia bangkit dan finis di posisi kedelapan pada Grand Prix hari Minggu, membuktikan ketahanan mental yang kuat meski berjuang dengan motor yang belum kompetitif.
Marini menilai hasil itu sebagai bukti bahwa potensi RC213V masih ada, hanya saja sistem saat ini sering membuat mereka memulai balapan dari posisi yang tidak ideal. “Kami tahu apa yang perlu ditingkatkan,” katanya. “Kami hanya perlu start dari posisi yang lebih baik untuk bersaing di depan.”
Performa di Sepang juga memperlihatkan bahwa pembalap Honda masih bisa menantang tim lain jika diberi peluang lebih setara di kualifikasi. “Kami butuh format yang tidak menghukum terlalu keras kesalahan kecil,” tutupnya.
Luca Marini desak revisi format kualifikasi MotoGP karena menilai sistem Q1 dan Q2 saat ini terlalu menghukum pembalap yang gagal lolos ke Q2. Dengan persaingan yang semakin ketat, bahkan selisih waktu sekecil apa pun bisa menentukan hasil akhir pekan. Usulan Marini untuk menambah jumlah pembalap yang lolos dari Q1 menjadi empat dianggap sebagai langkah sederhana namun signifikan untuk menciptakan kompetisi yang lebih adil.
Bagi Marini dan Honda, perubahan kecil dalam sistem kualifikasi bisa menjadi awal dari peningkatan performa. MotoGP kini ditantang untuk menyeimbangkan antara efisiensi acara dan keadilan kompetitif — sesuatu yang, menurut Marini, sangat dibutuhkan agar setiap pembalap memiliki peluang yang sama untuk bersaing di depan.

Posting Komentar untuk "Luca Marini desak revisi format kualifikasi MotoGP"