Masalah kopling menghambat Johann Zarco di Mandalika
Johann Zarco mengatakan ia tidak panik meski hasilnya menurun setelah menerima pembaruan besar pada motor Honda RC213V sejak Grand Prix Jepang.
![]() |
| Pembalap LCR Honda Castrol, Johann Zarco, terlihat saat pemanasan balapan utama Grand Prix Indonesia di Mandalika, Nusa Tenggara Barat pada 5 Oktober 2025. Foto oleh Stephen Blackberry/SOPA Images |
Johann Zarco dan Honda RC213V menjadi sorotan usai Grand Prix Indonesia. Pebalap asal Prancis itu mengalami penurunan hasil sejak mendapatkan versi terbaru dari motor Honda RC213V. Namun, meski performanya belum selevel dengan rekan-rekan pabrikan, Zarco menegaskan dirinya tidak panik. Ia percaya adaptasi terhadap paket baru membutuhkan waktu dan komunikasi yang solid antara dirinya, tim LCR, dan Honda Racing Corporation (HRC).
Honda sendiri memperkenalkan serangkaian pembaruan besar setelah jeda musim panas MotoGP 2025. Langkah itu membuahkan hasil langsung ketika Joan Mir finis ketiga di Grand Prix Jepang, menandai peningkatan signifikan performa RC213V. Zarco, yang baru mendapatkan versi motor tersebut di Motegi, belum mampu mengimbangi rekan-rekan pabrikan seperti Mir dan Luca Marini.
Zarco memulai akhir pekan Grand Prix Jepang dengan harapan tinggi. Namun, meskipun RC213V versi baru menawarkan peningkatan tenaga dan stabilitas, ia kesulitan menemukan keseimbangan yang sesuai dengan gaya membalapnya. Dalam balapan di Motegi, Zarco hanya mampu finis di posisi kesembilan.
Di Grand Prix Indonesia, masalah makin rumit. Ia harus memulai dari posisi ke-19 dalam kualifikasi dan menghadapi masalah teknis pada kopling sejak awal balapan. Masalah itu membuatnya tidak bisa tampil maksimal dan hanya mampu finis ke-12. Sementara itu, Luca Marini — yang menunggangi motor pabrikan Honda — berhasil finis di posisi kelima.
Bagi sebagian pembalap, situasi seperti ini bisa memicu frustrasi. Namun, Zarco mengambil pendekatan berbeda. Ia melihat tantangan ini sebagai bagian dari proses pembangunan ulang kepercayaan diri dengan motor baru.
Berbicara setelah Grand Prix Indonesia, Johann Zarco dan Honda RC213V menekankan bahwa situasinya masih terkendali. Ia mengaku tidak panik dengan hasil yang belum memuaskan.
“Kami akan menemukan basis baru dengan tim untuk mengerjakan motor baru ini,” kata Zarco. “Kami telah mengadakan pertemuan yang sangat hebat dengan tim saya dan Honda, dan saya sangat senang bisa berdiskusi terbuka seperti ini dengan Honda dan Lucio [Cecchinello].”
Zarco menjelaskan bahwa ia merasa nyaman dengan motor versi lama, terutama dalam hal kestabilan dan gaya membalapnya. Namun, RC213V baru memiliki karakteristik berbeda yang memaksanya menyesuaikan gaya mengerem dan cara memasuki tikungan.
“Kami menganalisis bahwa saya merasa sangat baik dan meningkat di motor lama, dan dibandingkan dengan kedua pembalap pabrikan, gaya berkendara saya berbeda, tapi itu berhasil,” lanjutnya. “Namun dengan motor baru, saya belum bisa mendapatkan keuntungan seperti sebelumnya. Karena itu kami berusaha membangun kembali basis baru untuk mengembalikan kepercayaan diri.”
Salah satu hal yang membuat Zarco tetap tenang adalah komunikasi terbuka dengan tim LCR Honda dan manajemen HRC. Pebalap berusia 35 tahun itu menilai transparansi dan kerja sama menjadi modal penting dalam fase transisi ini.
Zarco memuji cara Honda menghadapi tantangan pengembangan motor. Setelah dua musim kesulitan, pabrikan asal Jepang itu mulai menunjukkan arah positif dalam proyek RC213V baru. “Saya sangat senang bisa berbicara secara terbuka dengan Honda dan Lucio. Ini memberi saya motivasi besar untuk terus berkembang,” katanya.
Dari sisi teknis, Zarco dan kru LCR berusaha mencari “basis set-up” yang lebih sesuai dengan gaya balapnya. RC213V versi baru dirancang agar lebih stabil di tikungan dan memiliki daya dorong lebih kuat di akselerasi keluar tikungan, tetapi karakter itu tampaknya belum cocok sepenuhnya dengan cara Zarco mengatur momentum di tiap sektor lintasan.
Salah satu faktor utama yang membuat performa Zarco menurun di Indonesia adalah masalah teknis pada kopling. Ia menjelaskan bahwa kendala itu muncul sejak awal balapan dan membuatnya kehilangan banyak waktu di lap-lap pembuka.
“Start saya sebenarnya cukup baik, tapi dari lap pertama sampai lap keempat saya mengalami masalah teknis pada kopling,” kata Zarco. “Koplingnya berputar, tampaknya sama seperti yang dialami [Luca] Marini di Motegi.”
Zarco mencoba memperbaiki situasi di lintasan, namun tidak mudah. “Saya berusaha memperbaikinya sendiri, tapi secara mekanis, melakukannya dengan tangan tidak banyak membantu. Saya mencoba untuk tidak membuka gas penuh agar tidak berputar terlalu banyak, dan setelah beberapa lap, kopling mulai bekerja lebih baik.”
Namun, pada saat itu posisinya sudah jauh tertinggal. “Saya hampir berada di posisi terakhir; hanya [Somkiat] Chantra yang berada di belakang saya, Pecco [Bagnaia] juga kesulitan, dan [Enea] Bastianini. Ketika semuanya mulai berjalan lancar, saya mencoba menyesuaikan diri dan mengumpulkan data sebanyak mungkin untuk tim.”
Meski finis di luar sepuluh besar, Zarco menilai balapan di Mandalika tetap penting. Ia menekankan bahwa bagi pembalap seperti dirinya, setiap lap adalah kesempatan untuk memahami karakter motor baru.
“Saya melihat saya sudah berada di posisi poin karena banyak kecelakaan di lap pertama,” ujarnya. “Jadi, meski frustrasi karena masalah teknis, saya fokus menyelesaikan balapan dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.”
Pendekatan ini menunjukkan profesionalisme Zarco. Di usia yang tidak muda lagi untuk seorang pembalap MotoGP, ia memahami bahwa pengembangan motor adalah maraton, bukan sprint. Honda membutuhkan masukan konsisten dari semua pembalapnya — termasuk Zarco — untuk mengubah RC213V menjadi mesin kompetitif yang bisa menantang Ducati dan Aprilia.
Honda mulai pemulihan
Setelah dua tahun terpuruk, Honda tampaknya mulai melihat cahaya di ujung terowongan. Pembaruan besar yang diperkenalkan di Jepang menunjukkan potensi besar RC213V baru. Joan Mir membuktikan motor itu bisa kompetitif, sementara Luca Marini menunjukkan konsistensi yang lebih baik di Indonesia.
Namun, seperti yang dialami Zarco, adaptasi bukanlah hal instan. Setiap pembalap memiliki gaya balap unik yang membutuhkan penyetelan berbeda. Honda kini fokus pada fase fine-tuning — menyesuaikan karakter motor agar bisa cocok dengan beragam gaya membalap, dari yang agresif seperti Mir hingga yang halus dan kalkulatif seperti Zarco.
Bagi Zarco, kesabaran adalah kuncinya. Ia tahu bahwa jika kepercayaan diri terhadap motor baru kembali, kecepatannya juga akan mengikuti. “Kami tahu ketika kepercayaan diri kembali, saya akan cepat,” katanya tegas.
Menatap Grand Prix Australia, Johann Zarco dan Honda RC213V membawa tekad baru. Meskipun belum puas dengan hasil di Mandalika, ia melihat kemajuan nyata dalam pemahaman motor baru. Ia dan tim LCR akan berfokus pada setup yang bisa memberikan kestabilan di tikungan cepat seperti di Phillip Island, sekaligus menjaga traksi di lintasan lurus.
Perjalanan Zarco bersama Honda adalah kisah tentang kesabaran, kolaborasi, dan keyakinan. Di tengah proses panjang pengembangan RC213V, Zarco tetap menjadi figur penting yang menjaga arah tim satelit Honda agar tetap sejalan dengan proyek pabrikan.
Hasil mungkin belum datang, tetapi komitmen dan ketenangan Zarco menjadi sinyal bahwa Honda kini bergerak ke arah yang benar — langkah demi langkah, dengan pembalap yang tahu kapan harus tenang, dan kapan harus berjuang.

Posting Komentar untuk "Masalah kopling menghambat Johann Zarco di Mandalika"