Enea Bastianini mencari keseimbangan di tengah musim

Pebalap Tech3 KTM, Enea Bastianini, menargetkan pemahaman lebih baik terhadap KTM RC16 di tengah musim yang penuh fluktuasi.

Enea Bastianini mencari keseimbangan di tengah musim
Enea Bastianini pembalap Red Bull KTM Tech3 terlihat di garasinya saat balapan MotoGP Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika pada 5 Oktober 2025 di Lombok, Indonesia. Foto oleh Gold & Goose/Getty Images
Anna Fadiah Novanka Laras

Enea Bastianini dan KTM RC16 akan kembali menjadi pusat perhatian di Phillip Island setelah sang pembalap mengonfirmasi rencananya untuk menguji sasis baru pada Grand Prix Australia mendatang. Pebalap asal Italia itu mengungkapkan bahwa ia akan mencoba ulang versi sasis yang sebelumnya digunakan Pedro Acosta, setelah merasa belum mendapatkan keyakinan penuh saat pertama kali mencobanya di awal musim.

Langkah ini menandai upaya terbaru Bastianini dan tim Tech3 KTM untuk menemukan keseimbangan optimal pada motor RC16 yang telah memberinya musim dengan hasil naik turun. Meski sempat menikmati momen podium di paruh kedua musim, performanya masih belum konsisten di seluruh lintasan.

Musim MotoGP 2025 menjadi tahun penuh dinamika bagi Enea Bastianini. Setelah pindah dari Ducati ke KTM, ia menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan karakter RC16. Motor KTM terkenal memiliki keunggulan dalam traksi dan kecepatan di tikungan cepat, tetapi juga dikenal menuntut gaya membalap yang agresif dan teknis.

Bastianini mengakui bahwa sebagian besar peningkatan performanya baru terasa setelah ia menyadari bahwa gaya membalap lamanya perlu diubah. Ia harus beradaptasi dengan filosofi mesin KTM yang berbeda dari Desmosedici Ducati. “Saya belajar bahwa saya perlu menyesuaikan gaya saya dengan motor, bukan sebaliknya,” katanya beberapa waktu lalu.

Kini, dengan pengalaman lebih banyak di atas RC16, ia siap untuk melakukan pengujian ulang terhadap sasis alternatif. Tujuannya jelas: mencari keseimbangan yang lebih stabil dan percaya diri, terutama saat menikung cepat dan mengerem keras — dua aspek yang menjadi kelemahannya sepanjang musim ini.

Dalam pernyataannya kepada media setelah Grand Prix Indonesia, Enea Bastianini dan KTM RC16 menjelaskan bahwa sasis yang akan diuji di Australia merupakan versi yang sama seperti milik Pedro Acosta, pembalap muda yang tampil impresif bersama tim pabrikan KTM.

“Sasisnya tersedia untuk semua orang,” ujar Bastianini. “Hanya swingarm saja yang tersedia untuk semua pembalap, tapi yang digunakan Pedro saat ini masih khusus untuknya.”

Bastianini menegaskan bahwa program untuk mencoba sasis itu sudah direncanakan sejak lama, namun ia ingin melakukannya di momen ketika dirinya sudah lebih memahami motor. “Kami sudah mencobanya dalam pengujian, tapi saya tidak bisa menentukan mana yang lebih baik karena saya sama sekali tidak percaya diri di awal musim,” jelasnya.

Kini, dengan perasaan yang lebih stabil terhadap performa motornya, ia yakin tes kali ini akan jauh lebih bermakna. “Sekarang, akan lebih baik untuk mencobanya lagi, dan saya akan lebih mudah memahaminya. Ini ada dalam rencana untuk Grand Prix Australia,” tambahnya.

Grand Prix Indonesia di Sirkuit Pertamina Mandalika menjadi akhir pekan yang berat bagi Bastianini. Ia gagal menyelesaikan dua balapan, baik sprint maupun grand prix utama, setelah start dari posisi ke-17 di grid. Kegagalan itu membuatnya kembali merenungkan arah pengembangan RC16 miliknya.

“Wah, ini akhir pekan yang berat bagi saya,” ungkapnya. “Pada akhirnya, rasanya seperti awal musim. Tapi tidak apa-apa, para pembalap bekerja keras untuk memberi saya motor terbaik, hanya saja di balapan terjadi sesuatu yang tidak terduga.”

Bastianini menolak menyalahkan tim dan justru menilai bahwa momen seperti ini penting untuk memahami batasan motor. “Saya tidak bisa melakukan balapan yang fantastis, tapi kami harus bekerja bersama untuk memahami masa depan agar bisa melakukan sesuatu yang lebih baik lagi,” katanya.

Meski begitu, ia tetap melihat sisi positif dari akhir pekan Mandalika. “Akhir pekan ini terasa aneh, tapi ada hal positifnya. Di tikungan cepat kami kompetitif, dan saya tertinggal 0,4 detik lebih sedikit di sektor dua. Itu penting. Kami kehilangan sesuatu pada rem, tapi sekarang kami tahu apa yang harus dilakukan untuk bersaing.”

Bastianini bukan satu-satunya pembalap KTM yang berjuang untuk menyesuaikan diri dengan arah pengembangan RC16. Musim ini, pabrikan asal Austria itu mencoba menyeimbangkan dua pendekatan: mempertahankan kekuatan tradisional RC16 di area traksi, sambil meningkatkan kelincahan dan stabilitas di tikungan.

Pedro Acosta, dengan gaya membalap yang lebih agresif, tampaknya lebih cepat beradaptasi dengan versi sasis baru. Namun bagi Bastianini, yang dikenal memiliki gaya halus dan berbasis perasaan (feel rider), proses adaptasi ini membutuhkan waktu lebih lama.

Bastianini menilai bahwa KTM sedang berada di jalur yang benar, hanya saja setiap pembalap membutuhkan solusi spesifik agar bisa memaksimalkan potensinya. “Saya pikir RC16 memiliki potensi besar, tapi kami harus menemukan cara untuk membuatnya bekerja sesuai gaya masing-masing pembalap,” ujarnya.

Kondisi ini mencerminkan tantangan klasik yang dihadapi pabrikan dalam era MotoGP modern — di mana pengembangan motor tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan satu ukuran untuk semua.

Pengujian di Phillip Island

Uji coba sasis baru di Phillip Island akan menjadi momen penting bagi Enea Bastianini dan KTM RC16. Lintasan yang cepat, teknikal, dan berangin itu dikenal sebagai salah satu yang paling menantang di kalender MotoGP. Bastianini melihatnya sebagai kesempatan sempurna untuk memahami bagaimana sasis alternatif merespons di tikungan cepat dan pada tekanan tinggi di area pengereman.

Sasis baru yang dikembangkan KTM disebut-sebut menawarkan peningkatan pada front-end feedback, atau rasa kepercayaan diri pembalap terhadap ban depan — area yang sering menjadi kelemahan RC16 di tangan beberapa pembalap. Jika Bastianini bisa menemukan rasa yang lebih baik di area itu, performanya bisa meningkat drastis di sisa musim ini.

“Phillip Island adalah sirkuit yang sangat cepat, jadi ini akan menjadi tes yang bagus untuk memahami potensi sasis baru. Saya ingin tahu apakah saya bisa merasakan motor dengan lebih baik di tikungan-tikungan panjang seperti di sektor ketiga,” ujarnya kepada media.

Bastianini menyadari bahwa hasil di Indonesia bukanlah gambaran sebenarnya dari potensinya bersama KTM. Ia tetap yakin bisa menutup musim dengan kuat jika berhasil menemukan keseimbangan yang ia cari.

“Saya tahu kami punya kecepatan. Hanya saja, saya belum merasa sepenuhnya menyatu dengan motor. Begitu saya menemukan perasaan itu, saya tahu hasilnya akan datang,” ucapnya.

Tekanan bagi Bastianini memang besar. Dengan KTM berambisi mempersempit jarak dari Ducati di klasemen konstruktor, setiap poin sangat berharga. Namun pembalap asal Italia itu menunjukkan sikap tenang dan analitis, tanda bahwa ia telah belajar dari masa-masa sulitnya di awal musim.

Rencana Enea Bastianini dan KTM RC16 untuk menguji sasis baru di Grand Prix Australia menunjukkan pendekatan yang matang dan strategis. Ia tidak terburu-buru menuntut hasil instan, melainkan fokus membangun dasar yang kuat untuk performa jangka panjang.

Bastianini memahami bahwa adaptasi terhadap RC16 bukan sekadar soal kecepatan di lintasan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan diri dan komunikasi efektif dengan tim. Dengan semangat belajar dan kesabaran, ia berharap bisa menjadi bagian penting dari kebangkitan KTM di MotoGP 2025.

Di tengah rivalitas sengit dan tekanan dari pembalap-pembalap muda seperti Pedro Acosta, Enea Bastianini masih memiliki peluang besar untuk menunjukkan bahwa pengalaman dan konsistensi tetap menjadi senjata penting di dunia MotoGP modern. Dan uji coba sasis di Australia mungkin menjadi langkah awal menuju versi terbaik dari dirinya bersama KTM.

Posting Komentar untuk "Enea Bastianini mencari keseimbangan di tengah musim"